CILACAP – Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, kecuali penciptanya. Walaupun, kesempurnaan tidak ada dalam diri manusia, tapi usaha dan kerja keras tetap menjadi tumpuhan untuk melanjutkan kehidupan. Adipala, salah satu desa di Cilacap, Jawa Tengah. Desa yang terbilang sudah cukup maju dan tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi, memiliki sosok seorang ibu yang tegar dan kuat menjalani kehidupan.
Diah Eka Noventi (32) atau yang lebih dikenal dengan sapaan akrabnya Venti. anak pertama dari dua bersaudara ini, betapa malang nasibnya saat ia mengalami kecelakaan saat usia yang masih di bawah lima tahun. Kecelakaan kecil yang tidak diinginkan terjadi padanya. Kecelakaan itu membekaskan luka hingga saat ini, mungkin seumur hidupnya. Kecelakaan kecil yang tidak disengaja membuat hidupnya berubah, ketika saudaranya tak sengaja menjatuhkan sebuah galah yang menimpa kepalanya. Saraf kepala Venti, saat itu juga bermasalah. Berbagai pengobatan apapun, dimanapun, semuanya sudah dicoba oleh kedua orang tuanya, apapun mereka lakukan untuk menyembuhkan buah hati pertama mereka. Semua sudah dilakukan, tapi apa daya takdir berkata lain. Penyakit itu dideritanya hingga saat ini. Kejang-kejang sering sekali ia rasakan, akibat rasa letih atau pikiran yang sedang berkecamuk dikepalanya, kejang-kejang yang ia alami membuat fisiknya semakin lemah, deretan gigi yang sebelumnya berjejer dengan rapih dan kokoh, untuk menahan rasa sakit itu, satu persatu meninggalkan tempatnya. Dengan umur yang masih terbilang muda, tapi beberapa giginya sudah tidak ada. Maka dari itu semua keluarga berusaha untuk melindunginya, berusaha membuat suasana hatinya selalu gembira, jarang sekali ibunya mengizinkan Venti untuk berpergian jauh karena takut penyakitnya akan kambuh. Padahal dalam lubuk hati terdalamnya ia sangat ingin keluar dari rumah seperti yang lainnya, tapi apa boleh buat kondisi fisik yang membuatnya mengurungkan niat tersebut. Seringkali ia pergi keluar rumah tanpa memberitahu kedua orang tuanya, tetapi sesuatu pasti terjadi ia akan terjatuh akibat rasa pusing yang parah dan kejang-kejang, bahkan sampai ia mengeluarkan air kencing, banyak sekali orang-orang yang melihatnya. Rasa malu mungkin sudah hilang dari dirinya karena sering mengalami seperti itu.
Venti tetap menjalani kehidupannya seperti wanita yang lainnya tidak ada rasa putus asa dalam dirinya. Setelah menikah Venti dikaruniai seorang anak laki-laki, seorang anak yang ia lahirkan secara normal. Betapa hebatnya ia dengan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, ia masih bisa berusaha untuk melahirkan secara normal. Padahal sekarang ini wanita yang melahirkan dengan mudahnya menggunkan cara operasi atau biasa disebut sesar. Melahirkan secara normal juga menjadi kebanggan tersendiri untuknya sebagai seorang ibu.
Anak semata wayang yang ia asuh dengan bantuan ibu tercinta ia lakukan. Keberadaan suami bak hanya sebagai status karena itu ia memutuskan untuk berpisah dengan suaminya dan mencoba menghidupkan anaknya seorang diri. Alif, anak laki-laki yang mengerti kesehatan ibunya kurang baik, lebih memilih menghabiskan waktu bersama neneknya, agar ibunya tidak letih untuk mengurus dirinya karena ia tidak mau melihat ibunya merasakan sakit.
Agar tidak mejadi beban terus menerus orang tuanya Venti mengisi waktu luangnya setiap hari dengan bekerja. Ia membantu tetangga untuk mejereng lanting. Setiap 1000 lanting atau satu gulungan Venti diberikan 500 perak, dari pagi hingga sore ia menjereng lanting, ia mengumpulkan uang hasil kerjanya hingga satu bulan. Saat satu bulan habis, ia baru mengambil uangnya, penghasilan dari menjereng lanting yang kurang lebih Rp500.000. Agar hasil kerjanya membuahkan hasil, sebagian uangnya ia belikan emas dan sebagiannya ia tabung. Selain menjereng lanting, ia mencoba menjual es batu, satu es batu ia hargai Rp1000, penjualan es batu bisa menambah penghasilannya tiap hari.
Saat waktunya Lebaran tiba, semua keluarga akan berkumpul. Itulah saat-saat bahagia yang ia rasakan, bertemu dengan keluarga besar membuat rasa kesepiannya sedikit terobati. Aku dan saudara-saudaraku akan membantunya memisahkan satu persatu lanting-lanting dari gulungannya, menjejerkan lingkaran lanting itu dengan rapih agar bisa terjemur dengan rata. Betapa bahagianya ia, ketika semua bersimpati untuk membantu dirinya. Pekerjaanya akan lebih cepat selesai dan ia bisa menjereng lanting lebih banyak dari hari biasanya. Tidak setiap hari melakukan kegiatan inipun aku merasa bosan, walaupun dengan bantuan saudara lainnya tapi, Venti saudaraku bersabar demi tetap menghasilkan nafkah untuk anaknya dan tidak mau dianggap orang lain sebagai wanita yang lemah. Baginya keterbatasan fisik yang ia miliki bukan menjadi sebuah penghalang untuk menjalani hidupnya. Hidup akan mudah jika percaya dengan takdir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar