Jumat, 28 Oktober 2016

Apakah Kamu Ingat?


Seorang wanita yang mampu membuat mataku tak berpaling sedikit pun, wanita yang membuat mulutku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun, wanita yang membuat telingaku hanya ingin merasakan kesunyian, wanita yang membuat sekejap tubuhku menjadi kaku, wanita yang membuat diriku sulit untuk bernafas, wanita yang membuat otakku tak mampu untuk berfikir, dan wanita yang membuat diriku merasa waktu seakan berhenti sesaat. Ini pertama kalinya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan pertama kali ini juga aku tidak mengerti, apa yang terjadi pada diriku sendiri. Hanya satu hal yang kutahu, aku tahu ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Seorang pria yang tidak sengaja secara cepat dan mudah memberikan hatinya, itulah aku. Aku bertemu dengan seseorang wanita yang dalam hitungan detik mampu mengubah hatiku. Bagaimana ia menarik pandanganku dan bagaimana ia mempengaruhi pikiranku. Mendengar suaranya saja membuat hatiku gemetar tak karuan. Aku tidak tahu kebodohan atau kekuatan cinta apa yang datang padaku, tapi dialah satu-satunya wanita yang membuatku jatuh cinta.

Seorang wanita sederhana yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Saat aku pertama kali bertemu dengannya, dia mendapatkan kesempatan untuk mencuri hatiku. Dengan mudahnya hatiku telah tercuri begitu saja, hanya dengan sekali dia menatap mataku. Aku sungguh sudah dimabuk cinta, siapapun tolonglah diriku, tolong bantu aku, bantulah aku untuk berhenti bertingkah bodoh seperti ini, tapi apalah daya hati ini begitu bahagia. Hingga rasanya hati ini akan lepas meninggalkan sangkarnya.
Kauseperti cahaya, cahaya yang datang setelah hujan berlalu. Kaudatang dalam hatiku seperti ini. Cahaya yang tak perlu meminta izin untuk mengisi hatiku. Aku mencoba berusaha untuk meraih dan menggenggam cahaya itu, tapi begitu sulitnya aku mendapatkanmu. Bagaikan mencairkan bongkahan es yang begitu beku. Sekali lagi, aku percaya semua ini karena kekuatan cinta. Bongkahan es beku yang begitu dingin dan keras dapat dicairkan dengan hangatnya perasaan hati, yang begitu sabar untuk mendapatkan cinta sejatinya. Aku sudah berhasil mendapatkan cahaya itu dan aku tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Aku sangat mencintaimu. Aku yakin sekali hatiku tidak salah dalam menentukan pilihan, aku selalu megikuti isi hatiku. Kaulah selama ini, yang mungkin bukan seseorang yang dapat aku bayangkan. Cinta pertama yang aku rasakan, dan kaujugalah yang akan menjadi cinta terakhirku.
Kehidupanku berubah saat aku bersamamu. Takdir yang diberikan padaku, bagaikan kebahagiaan datang yang tidak akan pernah orang lain rasakan. Hari-hari yang aku jalani tak lepas darimu, kekasih hatiku yang selalu bersama menemaniku. Cintaku tidak buta karena aku dapat jelas melihat bagaimana sinar kebahagiaan yang terpancar dari orang yang kucintai. Aku hanya berharap kebahagiaan cinta ini tidak akan pernah menghilang dan pergi.
Hari-hari berjalan seperti biasa tidak ada satu pun kegiatan yang berubah. Aku dan dirinya masih tetap bersama, tapi satu hal yang berbeda dari dirinya. Semakin hari, sikap dan tingkah lakunya berubah. Kebiasaan-kebiasaannya satu demi satu menghilang, dia sering sekali lupa. Bahkan, suatu hal yang baru saja ia lakukan mudah ia lupakan begitu saja, seperti tidak pernah melakukan sebelumnya, lupa dengan apa yang harus ia lakukan, hingga keberadaan diriku pun mulai ia lupakan. Aku tahu, dia sadar betul dengan perubahannya dan kami memutuskan untuk mengetahui apa penyebab sebenarnya.
Setelah melakukan berbagai rangkaian tes pengobatan dan menunggu untuk mengetahui hasil diagnosa penyakitnya. Sungguh bukan ini yang ingin kami dengar, semua ini bukan sesuatu hal yang menenangkan saat mengetahuinya. Apakah seharusnya kami tidak perlu tahu sedikitpun?.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya
Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong, menunggunya mengucapkan sesuatu yang membuatku tenang. “Sungguh, aku baik-baik saja. Kautidak perlu mengkhawatirkanku. Percayalah, asal kauada bersamaku. Semuanya akan baik-baik saja, bukankah begitu?” lanjutnya, dengan tatapan mata yang mencoba untuk meyakinkanku.
Aku membalas tatapannya, menggenggam tangan yang sedikit dingin itu. “Berjanjilah padaku, kau akan tetap bersamaku. Agar semuanya baik-baik saja.” Ia pun tersenyum menganggukan kepala dan mempererat genggaman tanganku. Dia memaksakan seulas senyum untuk menenangkanku, linangan air mata yang ia tahan agar aku tak khawatir, tapi aku tahu semuanya yang sedang ia sembunyikan. Kesedihan yang teramat dalam yang ia coba untuk tidak membaginya pada siapa pun.
Aku dan dirinya berjalan menyusuri jalan setapak rumah sakit, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir kami. Diam, hening berkutit dengan pikiran masing masing. Dia berhenti melangkahkan kakinya, melepaskan genggaman tanganku, dan perlahan mengalihkan pandangannya menatapku sendu dengan linangan air mata yang jatuh dengan bebasnya.
“Maaf, maafkan aku. Aku sudah berbohong padamu, sekarang aku tidak baik-baik saja, aku takut,” ucapnya padaku.
Sakit, sakit hati ini rasanya melihat dia meneteskan air mata di depanku. Tak sanggup aku melihatnya. Aku hanya bisa memeluknya seerat mungkin, pelukan hangat yang memastikan bahwa aku selalu ada untuknya, walau dalam keadaan apapun. Balasan pelukan yang begitu lemas, seperti tubuh yang tak bernyawa aku rasakan. Betapa hancur hatinya mengenai vonis penyakit itu, dengan umur yang terbilang muda, ia harus mendapatkannya. Ini bukan waktu yang tepat.
“Semuanya akan baik-baik saja,” ujarku
Pernyataan dokter, pernyataan dokter itulah yang kami dengar dan membuat kami terkejut. Suatu pernyataan vonis dirinya yang tengah mengidap penyakit Alzheimer, bukan hanya ia saja yang terpukul dan sangat sedih menghadapi kenyataan itu, tapi akulah seseorang yang begitu takut, begitu takut mengetahui semua akibatnya. Ia akan kehilangan ingatannya selama ia hidup, aku sungguh takut ia melupakanku.
Seiring berjalannya waktu, hari demi hari masih aku lalui bersamanya sampai bulan berganti. Tapi, semua yang aku takutkan, semua pikiran buruk yang berkecamuk dikepalaku, semuanya menjadi kenyataan. Aku merasa jalan hidupku seperti diputar-putar, dimana saatnya aku bahagia dan dimana saatnya aku merasakan titik terendah dalam hidupku. Aku, akulah sekarang yang sudah dia tidak ingat sama sekali, sedikitpun memori tentang diriku tidak tersisa walau hanya sebatas nama.
Alzheimer, kenapa penyakit itu harus dia yang merasakannya dan kenapa aku ikut menjadi daftar sesuatu yang harus dilupakannya dan ia tidak ingat sama sekali. Waktu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti, semuanya akan berubah begitu saja dengan cepatnya, termaksud dirimu yang sekarang dengan mudah melupakanku, tapi satu yang tidak akan pernah berubah dalam diriku. Aku tetap mencintaimu, jadi tolong ingatlah aku kembali.
Apakah kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Waktu yang begitu penuh dengan rasa canggung dan asing. Waktu yang sebentar itu dapat mengantarkan kubersama dengan dirimu membuat kenangan indah, begitu banyak kenangan yang tak bisa dilupakan diantara tawa dan air mata.
Apa kamu ingat saat kita merasakan teriknya sinar matahari dan melihat deburan ombak dengan semilir angin pantai yang menyejukkan. Samudera biru yang luas terpampang nyata di hadapan kita, berpegangan tangan serasa tidak ingin melepaskan satu sama lain, terus bertatapan akan takut kita tidak bisa berjumpa lagi, menikmati kesunyian pantai ditemani kicauan burung yang sangat merdu, bersandar menunggu cahaya matahari merah yang terbenam semakin gelap menutupi langit sehingga bintang-bintang mulai bermunculan menerangi gelapnya malam. Seolah-olah waktu telah berhenti, seperti yang selalu kita inginkan. Tapi, sayangnya waktu itu tidak bisa terulang kembali. Semua itu hanyalah tinggal kenangan dan menjadi harapanku memimpikan semuanya bisa seperti semula dan memulainya kembali dari awal.
Selamanya aku ingin bermimpi bersamamu, suasana hati yang selalu bahagia terus mengiringi waktuku bagaikan hembusan angin, mendengarkan lagu indah penyejuk hati, menghirup aroma wangi yang memenuhi tubuhmu, berjalan bersama dengan satu jalan yang kita lewati bersama. Selamanya aku ingin seperti ini, aku ingin memegang tanganmu dan berjalan di dunia denganmu bersama orang yang aku cintai. Kau, kaulah orang yang kucintai.
Senyumku tidak akan mudah menghilang begitu saja walaupun kautelah melupakanku, aku akan terus mencoba dengan sabar untuk menunggumu. Seluruh cintaku hanya untukmu karena aku tahu kekuatan cintamu melebihi siapapun, meski kaumelupakanku, tetapi aku tetap merasakan hatiku selalu dekat denganmu, hati kita tetap satu. Apapun masa depan yang menanti dirimu, aku akan tetap mempersilakanmu tetap berada dalam hatiku, tanganku akan menyambutmu dengan suka rela.
Aku tidak akan pernah berubah sedikitpun, aku tak akan menyerah dan tidak akan membuat cintamu berubah. Aku tetap mencintaimu walau seperti ini, tapi hanya satu permintaanku padamu jangan pernah kau pergi meninggalkanku. Aku akan berusaha membantumu mengingat sedikit demi sedikit kenangan kita, walaupun kau tak sanggup untuk mengingatnya..
----------
Lenyapkah cinta kita? Cinta kita sudah menghilang dari memorimu, tapi tolong jangan hapus cinta kita dalam hatimu … Cintaku, tolong datang kembali. Jangan pergi tinggalkan aku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAHABAT

SAHABAT Dulu kita seperti menara Jauh, tak rasakan apa-apa Sekarang kita seperti udara Dekat, tak ada keterbatasan Pertem...