Seorang
wanita yang mampu membuat mataku tak berpaling sedikit pun, wanita yang membuat
mulutku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun, wanita yang membuat telingaku
hanya ingin merasakan kesunyian, wanita yang membuat sekejap tubuhku menjadi
kaku, wanita yang membuat diriku sulit untuk bernafas, wanita yang membuat
otakku tak mampu untuk berfikir, dan wanita yang membuat diriku merasa waktu
seakan berhenti sesaat. Ini pertama kalinya jantungku berdetak lebih cepat dari
biasanya dan pertama kali ini juga aku tidak mengerti, apa yang terjadi pada
diriku sendiri. Hanya satu hal yang kutahu, aku tahu ini yang dinamakan jatuh
cinta pada pandangan pertama.
Seorang
pria yang tidak sengaja secara cepat dan mudah memberikan hatinya, itulah aku. Aku
bertemu dengan seseorang wanita yang dalam hitungan detik mampu mengubah
hatiku. Bagaimana ia menarik pandanganku dan bagaimana ia mempengaruhi
pikiranku. Mendengar suaranya
saja membuat hatiku gemetar tak karuan. Aku tidak tahu
kebodohan atau kekuatan cinta apa yang datang padaku, tapi dialah satu-satunya
wanita yang membuatku jatuh cinta.
Seorang
wanita sederhana yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Saat
aku pertama kali bertemu dengannya, dia mendapatkan kesempatan untuk mencuri
hatiku. Dengan mudahnya hatiku telah tercuri begitu saja, hanya dengan sekali
dia menatap mataku. Aku sungguh sudah dimabuk cinta, siapapun tolonglah diriku,
tolong bantu aku, bantulah aku untuk berhenti bertingkah bodoh seperti ini, tapi apalah daya hati ini begitu bahagia. Hingga rasanya hati ini akan lepas
meninggalkan sangkarnya.
Kauseperti cahaya, cahaya yang datang setelah hujan berlalu. Kaudatang dalam
hatiku seperti ini. Cahaya yang tak perlu meminta izin untuk mengisi hatiku.
Aku mencoba berusaha untuk meraih dan menggenggam cahaya itu, tapi begitu
sulitnya aku mendapatkanmu. Bagaikan mencairkan bongkahan es yang begitu beku.
Sekali lagi, aku percaya semua ini karena kekuatan cinta. Bongkahan es beku
yang begitu dingin dan keras dapat dicairkan dengan hangatnya perasaan hati, yang
begitu sabar untuk mendapatkan cinta sejatinya. Aku sudah berhasil mendapatkan
cahaya itu dan aku tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Aku
sangat mencintaimu. Aku yakin sekali hatiku tidak salah dalam menentukan pilihan,
aku selalu megikuti isi hatiku. Kaulah selama ini, yang mungkin bukan seseorang
yang dapat aku bayangkan. Cinta pertama yang aku rasakan, dan kaujugalah yang
akan menjadi cinta terakhirku.
Kehidupanku
berubah saat aku
bersamamu. Takdir yang diberikan padaku, bagaikan kebahagiaan
datang yang tidak akan pernah orang lain rasakan. Hari-hari yang aku jalani tak
lepas darimu, kekasih hatiku yang selalu bersama menemaniku. Cintaku tidak buta karena aku dapat jelas
melihat bagaimana sinar kebahagiaan yang terpancar dari orang yang kucintai.
Aku hanya berharap kebahagiaan
cinta ini tidak akan pernah menghilang dan pergi.
Hari-hari
berjalan seperti biasa tidak ada satu pun kegiatan yang berubah. Aku dan
dirinya masih tetap bersama, tapi satu hal yang berbeda dari dirinya. Semakin
hari, sikap dan tingkah lakunya berubah. Kebiasaan-kebiasaannya satu demi satu
menghilang, dia sering sekali lupa. Bahkan, suatu hal yang baru saja ia lakukan
mudah ia lupakan begitu saja, seperti tidak pernah melakukan sebelumnya, lupa
dengan apa yang harus ia lakukan, hingga keberadaan diriku pun mulai ia lupakan. Aku tahu, dia
sadar betul dengan perubahannya dan kami memutuskan untuk mengetahui apa
penyebab sebenarnya.
Setelah
melakukan berbagai rangkaian tes pengobatan dan menunggu untuk mengetahui hasil
diagnosa penyakitnya. Sungguh bukan ini yang ingin kami dengar, semua ini bukan
sesuatu hal yang menenangkan saat mengetahuinya. Apakah seharusnya kami tidak
perlu tahu sedikitpun?.
“Aku
baik-baik saja,” ucapnya
Aku
hanya menatapnya dengan tatapan kosong, menunggunya mengucapkan sesuatu yang
membuatku tenang. “Sungguh, aku baik-baik saja. Kautidak perlu mengkhawatirkanku. Percayalah, asal kauada bersamaku. Semuanya akan baik-baik saja, bukankah
begitu?” lanjutnya, dengan tatapan mata yang mencoba untuk meyakinkanku.
Aku
membalas tatapannya, menggenggam tangan yang sedikit dingin itu. “Berjanjilah
padaku, kau akan tetap bersamaku. Agar semuanya baik-baik saja.” Ia pun
tersenyum menganggukan kepala dan mempererat genggaman tanganku. Dia memaksakan
seulas senyum untuk menenangkanku, linangan air mata yang ia tahan agar aku tak
khawatir, tapi aku tahu semuanya yang sedang ia sembunyikan. Kesedihan yang
teramat dalam yang ia coba untuk tidak membaginya pada siapa pun.
Aku
dan dirinya berjalan menyusuri jalan setapak rumah sakit, tidak ada sepatah
katapun yang terucap dari bibir kami. Diam, hening berkutit dengan pikiran
masing masing. Dia berhenti melangkahkan kakinya, melepaskan genggaman
tanganku, dan perlahan mengalihkan
pandangannya menatapku sendu dengan linangan air mata yang jatuh
dengan bebasnya.
“Maaf,
maafkan aku. Aku sudah berbohong padamu, sekarang aku tidak baik-baik saja, aku takut,” ucapnya padaku.
Sakit,
sakit hati ini rasanya melihat dia meneteskan air mata di depanku. Tak sanggup
aku melihatnya. Aku hanya bisa memeluknya seerat mungkin, pelukan hangat yang
memastikan bahwa aku selalu ada untuknya, walau dalam keadaan apapun. Balasan
pelukan yang begitu lemas, seperti tubuh yang tak bernyawa aku rasakan. Betapa hancur hatinya mengenai vonis penyakit itu,
dengan umur yang terbilang muda, ia harus mendapatkannya. Ini bukan waktu yang
tepat.
“Semuanya akan baik-baik saja,” ujarku
Pernyataan
dokter, pernyataan dokter itulah yang kami dengar dan membuat kami terkejut.
Suatu pernyataan vonis dirinya yang tengah mengidap penyakit Alzheimer, bukan
hanya ia saja yang terpukul dan sangat sedih menghadapi kenyataan itu, tapi
akulah seseorang yang begitu takut, begitu takut mengetahui semua akibatnya. Ia
akan kehilangan ingatannya selama ia hidup, aku sungguh takut ia melupakanku.
Seiring
berjalannya waktu, hari demi hari masih aku lalui bersamanya sampai bulan
berganti. Tapi, semua yang aku takutkan, semua pikiran buruk yang berkecamuk
dikepalaku, semuanya menjadi kenyataan. Aku merasa jalan hidupku seperti diputar-putar, dimana
saatnya aku bahagia dan dimana saatnya aku merasakan titik terendah dalam
hidupku. Aku, akulah sekarang yang sudah dia tidak ingat sama
sekali, sedikitpun memori tentang diriku tidak tersisa walau hanya sebatas nama.
Alzheimer,
kenapa penyakit itu harus dia yang merasakannya dan kenapa aku ikut menjadi
daftar sesuatu yang harus dilupakannya dan ia tidak ingat sama sekali. Waktu terus berjalan
dan tidak akan pernah berhenti, semuanya akan berubah begitu saja dengan
cepatnya, termaksud dirimu yang sekarang dengan mudah melupakanku, tapi satu
yang tidak akan pernah berubah dalam diriku. Aku tetap mencintaimu, jadi tolong
ingatlah aku kembali.
Apakah
kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Waktu yang begitu penuh dengan rasa
canggung dan asing. Waktu yang sebentar itu dapat mengantarkan kubersama
dengan dirimu membuat kenangan indah, begitu banyak kenangan yang tak bisa
dilupakan diantara tawa dan air mata.
Apa
kamu ingat saat kita merasakan teriknya sinar matahari dan melihat deburan
ombak dengan semilir angin pantai yang menyejukkan. Samudera biru yang luas
terpampang nyata di hadapan kita, berpegangan tangan serasa tidak ingin
melepaskan satu sama lain, terus bertatapan akan takut kita tidak bisa berjumpa
lagi, menikmati kesunyian pantai ditemani kicauan burung yang sangat merdu,
bersandar menunggu cahaya matahari merah yang terbenam semakin gelap menutupi
langit sehingga bintang-bintang mulai bermunculan menerangi gelapnya malam.
Seolah-olah waktu telah berhenti, seperti yang selalu kita inginkan. Tapi,
sayangnya waktu itu tidak bisa terulang kembali. Semua itu hanyalah tinggal
kenangan dan menjadi harapanku memimpikan semuanya bisa seperti semula dan
memulainya kembali dari awal.
Selamanya
aku ingin bermimpi bersamamu, suasana hati yang selalu bahagia terus mengiringi
waktuku bagaikan hembusan angin, mendengarkan lagu indah penyejuk hati,
menghirup aroma wangi yang memenuhi tubuhmu, berjalan bersama dengan satu jalan
yang kita lewati bersama. Selamanya aku ingin seperti ini, aku ingin memegang
tanganmu dan berjalan di dunia denganmu bersama orang yang aku cintai. Kau,
kaulah orang yang kucintai.
Senyumku
tidak akan mudah menghilang begitu saja walaupun kautelah melupakanku, aku
akan terus mencoba dengan sabar untuk menunggumu. Seluruh cintaku hanya untukmu
karena aku tahu kekuatan cintamu melebihi siapapun, meski kaumelupakanku,
tetapi aku tetap merasakan hatiku selalu dekat denganmu, hati kita tetap satu. Apapun
masa depan yang menanti dirimu, aku akan tetap mempersilakanmu tetap berada
dalam hatiku, tanganku akan menyambutmu dengan suka rela.
Aku
tidak akan pernah berubah sedikitpun, aku tak akan menyerah dan tidak akan
membuat cintamu berubah. Aku tetap mencintaimu walau seperti ini, tapi hanya
satu permintaanku padamu jangan pernah kau pergi meninggalkanku. Aku akan
berusaha membantumu mengingat sedikit demi sedikit kenangan kita, walaupun kau
tak sanggup untuk mengingatnya..
----------
Lenyapkah cinta kita? Cinta kita sudah menghilang dari memorimu, tapi tolong jangan
hapus cinta kita dalam hatimu … Cintaku, tolong datang kembali. Jangan pergi
tinggalkan aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar