Jumat, 28 Oktober 2016

Hilang Dalam Cinta


Aku tidak tahu dimana hatiku akan berlabuh, aku tidak tahu dimana hatiku akan menentukan pilihannya, dan aku juga tidak tahu siapa yang akan memiliki hati ini.
Karena aku hanya akan mencintaimu, walaupun sangat menyakitkan.

Aku seorang perempuan yang bodoh karena penuh harap akan sesuatu hal yang tidak mungkin aku dapatkan. Memiliki angan-angan setinggi langit, terus bermimpi tanpa dapat mewujudkannya. Tepatnya aku tidak akan mungkin mendapatkan cinta darinya, tidak akan mungkin. Walaupun kutahu semua itu, hati ini tetap tidak beralih sedikitpun.

Aku memang pernah memiliki cintamu, tapi itu dulu sekarang tidak lagi. Tidak ada tempat untuk diriku di hatimu. Aku dan dirinya adalah sesuatu yang sangat berbeda, dengan cepat kau mengalihkan hatimu untuknya. Tentu saja kau mudah berpaling pada siapapun, sangat mudah jauh terpisah dariku, aku tahu itu tidak sulit untukmu, dan aku juga tahu itu tidak mudah untukku. Apa cintanya lebih besar dari cintaku? Kaumembuat aku gelisah, kaumembuat aku menangis seperti orang bodoh, seperti anak kecil. Aku hanya ingin menertawakan tingkahku ini.
Terlalu banyak tetesan air mata yang aku keluarkan untukmu, meskipun sakit, sakit, mungkin sangat sakit, tapi masih sekali lagi AKU SANGAT MENCINTAIMU. Saat air mataku berlimpah menjadi sungai, menjadi lautan, dan menjadi samudera. Apakah kau ingin lebih tahu, tentangku? Seseorang yang hanya mencintaimu ini. Tak bisakah kauberada disisiku? Sehingga aku dapat tertawa tanpa henti dan menangis tanpa henti bersamamu.
Linangan air mata ini semua adalah rasa penyesalanku, rasa penyesalan yang begitu mendalam, Kebodohan yang selalu terulang, kesalahan yang dibuat oleh diriku sendiri, dan harus aku juga yang merasakan rasa sakit ini. Aku berjuang seorang diri merasakan rasa sakit hati ini, mencoba bertahan mencintainya. Sejak lama di dalam hatiku penuh awan dan hujan yang masih bisa sabar kubendung. Tapi, sungguh ingin kuungkapkan padamu semua perasaan cinta ini. Perasaan cinta yang begitu gila, namun semuanya terasa begitu sulit untuk mengungkapkannya. 
Sejak aku dan dirinya tidak bersama lagi, aku berubah, berubah menjadi sosok perempuan bodoh yang dibutakan oleh cinta. Memandangnya dari kejauhan, melamun memikirkannya, hingga air mata ini tak kuat untuk bertahan. Berharap akan ada keajaiban yang datang padaku dan aku bisa bersamanya kembali.
 “Masih memikirkannya? Kenapa kausulit sekali untuk melepasnya,” ucap Andrian membuyarkan lamunanku, sambil mengusap linangan air mataku dengan kedua ibu jarinya 
“Bukankah sudah sering kukatakan, ada aku di sini. Untuk apa kaumenunggunya,” lanjutnya dengan tawa yang menghias wajahnya.
Aku hanya dapat memandangi, menatap dalam matanya. Betapa tulus dia mencintaiku, tapi aku melupakan dia, dia yang selalu ada untukku. Dia yang menghiburku saat aku merasakan sedih, dia memberikan seulas senyum walaupun diriku marah, akupun juga meluapkan rasa amarahku padanya. Dia juga memberi semangat untuk aku melupakan pria itu dan beralih pada dirinya. Tatapan mata sendu dan senyuman hangat itu yang terus menghias wajahnya, tapi aku sama sekali tak melihat dirinya, sedikitpun tak meliriknya, bahkan memikirkannya. Dirinya yang selalu menatapku, berada di sisiku, dan selalu ada untukku. Tapi, hati ini tidak mampu untuk menerima dirinya karena rasa cinta yang ku rasakan sendiri terlalu dalam. Aku hanya bisa meluapkan ini dengan tangisan, hingga aku sulit untuk bernafas
“Kau tahu, semakin dekat aku mendapatkanmu. Aku medapatkan ketakutan yang lebih, kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini. Bahkan jika dari jarak jauh, aku bisa tetap melihat ke arahmu, aku bisa melihatmu. Itulah apa yang kau sebut cinta bukan? kaujuga merasakannya, tapi bukan untukku. Sedikit demi sedikit aku melangkah ke arahmu, aku coba sedikit demi sedikit. Tak lama kemudian, aku sudah berada cukup dekat untuk melihatmu. Tapi, hanya dengan memandangimu seperti ini, tidak akan ada akhirnya. Hari ini, sekali lagi seorang pria seperti kuberdiri di sini. Masih menunggu balasan cintamu,” ucap Andrian
Mendengarnya mengucapkan semua kalimat itu, membuatku semakin sakit, sakit, sangat sakit. Aku begitu takut untuk meninggalkan perasaan ini dan beralih padanya. Malam sunyi dan sejuk di taman ini seperti malam yang akan kedatangan badai. Matanya memang tak menatapku saat ini, tapi aku tahu terlalu banyak rasa yang berkecamuk dibenaknya, aku mencoba memberanikan diriku untuk menggenggam tangannya, mencoba membuatnya beralih dan menatapku. Air mata ini tidak dapat aku tahan lagi, aku tidak peduli berapa banyak tetesan air mata ini yang akan membuat wajahku basah. Ingin sekali rasanya aku melarikan diri, aku ingin meletakan dan meninggalkan semuanya dan beristirahat menenangkan hatiku.
“Aku tidak dapat membedakan apa yang aku rasakan padanya, apakah ini perasaan benci? Atau perasaan cinta? Seandainya saja ada yang bisa memberitahuku perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan. Tolong aku, Andrian. aku kehilangan arah, memoriku berantakan, tapi kaubegitu tenang Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Tak bisakah kaumenunggu cintaku? hingga aku bisa berada disisimu. Apa kaumasih mau menggengam tanganku, walaupun kautidak mencintaiku lagi, tunggulah aku hingga aku sadar akan kebodohan ini, tunggu aku hingga aku sadar aku mencintaimu. Saat waktunya tiba aku berlari padamu, aku akan mengatakan padamu semua yang tersembunyi dalam hatiku. Kautahu, semakin kaubersikap seperti ini padaku, ini sedikit mengguncang emosiku. Aku sungguh takut akan semuanya.”
Aku tak tahu kekuatan atau keberanian apa sehingga aku bisa mengucapkan semua itu padanya, mengucapkannya tanpa berfikir panjang. Sudah jelas aku menyakiti hatinya, tapi aku masih saja berani meminta untuk dia tetap menungguku. Kebodohan apa lagi yang aku buat, keegoisan hati ini yang tidak dapat aku cegah.
“Aku ingin selalu bersama dirimu saat kautertawa tanpa henti dan menangis tanpa henti bersamaku karena aku hanya akan mencintaimu, walaupun sangat menyakitkan. Aku tahu cinta ini bertepuk sebelah tangan. Jika kau mencintaiku tolong, lihat kembali ke arahku, sedikit lebih cepat dan tak melepaskan pandanganmu dariku. Tolong tetap genggam tanganku sebelum aku beralih darimu, sebelum bara cintaku padam padamu,” ucap Andrian
Mendengar ucapannya hatiku terasa tersambar petir, begitu sangat menusuk dan begitu perih. Tapi, inilah ganjaran yang setimpal untukku, bahkan ini belum cukup. Berani-beraninya aku meminta agar dia tetap melihatku dan menugguku. Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong, melepas perlahan genggaman tangannya, membiarkan dia pergi perlahan dari sisiku. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku dapat melihatnya, ini akan menjadi perpisahan yang sangat menyakitkan, tidak ada salam perpisahan ataupun senyuman hangat. Tapi, lebih baik seperti ini agar aku bisa menghilangkan rasa bersalah sedikit demi sedikit. Aku harus siap untuk kehilangan dirinya. Tangisan ini pun tak ada gunanya, kesempatan yang sangat berharga aku buang begitu saja, melepaskan dirinya yang begitu berharga. Ribuan kali aku melepaskannya, kali ini aku tidak akan mendapatkannya kembali.
-----
Satu hari terasa lebih lama rasanya, hari ini terasa lebih kosong dan ada sesuatu yang menghilang dari biasanya, aku binggung apa yang harus aku lakukan. Seperti tidak ada yang mengisi hatiku, semuanya hampa. Aku merindukannya, aku kehilangan dia di sisiku, mungkin hanya secarik kertas dan sebuah bolpoin ini yang bisa mengutarakan semua isi hatiku. Lagi, aku terus meneteskan air mata penyesalan ini. Sepertinya tidak ada air mata kebahagiaan untukku. Sekata demi kata aku tuliskan, aku akan mengirimkan surat ini pada Andrian. Aku akan pergi, aku akan pergi meninggalkan kenangan pahit ini. Melepaskan semuanya, pergi menjauh tanpa membekaskan jejak sedikitpun. Aku tidak akan menjadi bayangan hitam lagi bagi siapapun.

------------------------------------------------------------------
Dear, A
Dulu, ketika hatiku gelap kau selalu memberikan cahaya dan melindungiku seperti kunang-kunang. Ketika air mataku menutupi penglihatanku, kaubagaikan sihir datang memelukku erat. Hingga aku terjatuh dan terpuruk, kautetap menolongku untuk tetap bangun dan berdiri. Berada di sisimu, seperti merasakan bintang berkelip-kelip disekitarku. Kaubegitu berharga untukku, bisa mengenalmu, bisa mendapatkan cinta darimu. Aku seperti mendapatkan sebuah penghargaan, aku sungguh beruntung, hanya aku wanita yang beruntung karena mendapatkan semua itu darimu. Aku sangat berterima kasih untukmu yang telah mau berada di sisiku. Setiap jam, menit, detik, dan selamanya aku tahu kauakan selalu mencintaiku. Kauadalah orang yang membuatku tersenyum, kauadalah orang yang membuatku menangis, dan kaujuga adalah orang yang meraih hatiku lewat kehangatan pelukanmu. Kenangan bersamamu tak bisa kuhapus, tak bisa kulupakan hanya sedikitpun. Aku akan mengingat kenangan ini dan ku simpan semuanya di dalam hatiku, tidak akan aku tinggalkan sedikitpun walau itu hanya setitik.
Sebenarnya, aku sungguh begitu takut akan angin yang sunyi, yang menjadi dingin dan sangat dingin. Aku takut tidak akan ada lagi yang menghangatkanku, aku harus bisa bertahan tanpa penghangat itu. 
Kaubegitu tahu bagaimana diriku, kausangat memahamiku melebihi diriku sendiri. Bagaimana aku begitu mencintai orang itu. Karena orang itu pula, hatiku sakit. Hatiku telah tercabik-cabik, kenangan itu pun terasa menusuk disetiap hariku. Tak mungkin juga aku tetap berlari ke arahmu, betapa jahatnya aku tetap melakukan itu. Tak sanggup ku ungkapkan bagaimana rasanya aku mencintaimu, tak mungkin aku mengatakannya padamu. Aku bukanlah yang terbaik untukmu, aku tidak memiliki keberanian untuk menatap mu secara langsung dan mengatakannya. Aku sungguh malu, untuk menemuimu, tapi ku beranikan diri hanya melalui secarik kertas surat ini. Terima kasih kau telah hadir di hidupku, maafkan aku hingga saat ini aku tetap tidak berlari kepadamu. Jangan melihat ke belakang, aku tidak sanggup untuk menggenggam tanganmu. Semua cerita yang kita bagi bersama, sekarang itu semua hanya menjadi bagian dari masa lalu. Bebaskan aku, biarkan aku pergi. Biarkan aku pergi agar aku bisa beristirahat sejenak. Aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakan air mata ini untuk orang yang tidak mencintaiku. 
Aku telah mencintaimu sekarang dan terus mencintaimu. Aku harus menjalani ini, kita harus melanjutkan kehidupan kita. Lupakanlah aku, biarkanlah aku pergi, dan hiduplah dengan bahagia. Aku akan menghapus cintaku padamu. Jika, mungkin takdir akan menyatukan kita bersama, aku tidak akan pergi, aku akan berlari ke arahmu dan memelukmu erat dan tidak akan melepaskannya. 

Selamat tinggal


From : Nina
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAHABAT

SAHABAT Dulu kita seperti menara Jauh, tak rasakan apa-apa Sekarang kita seperti udara Dekat, tak ada keterbatasan Pertem...