Jumat, 28 Oktober 2016

Aku Ingin Bersamamu Kembali


Ketika rindu ingin bertemu denganmu, sesak rasanya hati ini. Ketika pikiranku terus bergejolak memikirkanmu, perihnya mata ini hingga meneteskan butiran air mata. Ketika kata ucapan cinta tak tersampaikan, penyeselan yang timbul tak henti-henti kurasakan. Ingin sekali rasanya bertemu denganmu, walau hanya dalam mimpi yang singkat. Ingin sekali aku mengutarakan apa yang aku rasakan, tetapi waktu tidak terulang kembali. Ingin sekali aku menangis dalam pelukanmu, saat hati ini gundah. Ingin sekali aku membalas kasih sayangmu, tetapi aku tidak sempat. Kini anakmu telah tumbuh dewasa, IBU, aku ingin bersamamu kembali.
IBU. Satu kata, ketika setiap seorang anak ditanya, siapakah yang paling kau cintai di dunia ini? semuanya akan menjawab Ibuku, tanpa terkecuali. Iya benar, seorang wanita yang mengandungku, melahirkanku ke dunia ini, menjagaku, merawatku, memberiku kasih sayang yang melimpah, bahkan berkorban apapun demi seorang anak yang sangat dicintainya. Cinta pertama dan cinta sejatiku.
Seorang ibu bagai malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untukku, ibu yang selalu tersenyum ketika aku menangis, ibu yang selalu mengusap pipiku ketika berlinangan air mata, ibu yang juga terbangun dari tidurnya di kala malam kuterbangun, ibu yang terjaga tidurnya dikala merawatku saat aku jatuh sakit, dan ibu yang memanjakan diriku bagai putri raja yang mudah mendapatkan segalanya. Ia selalu ada kapanpun anaknya membutuhkannya.
Aku sangat merindukan itu semua, merindukan semua yang dilakukan ibuku. Kasih sayang, belaian lembut jemari tangan mengusap kepalaku, suara tawa ketika aku melakukan kesalahan nakal, dan dekapan hangat yang menyentuh tubuhku. Aku rindu kepada dirimu ibu, sangat merindukan dirimu. Aku yakin kau juga tahu bagaimna rasa rinduku, tapi Tuhan berkata lain, Tuhan merubah takdir kehidupanku saat itu juga. Mengambil kembali seorang yang paling berharga dalam hidupku untuk selama-lamanya dan memulai hidupku tanpa dirimu ibu.
Hanya tiga tahun, tiga tahun lamanya semenjak aku dilahirkan di dunia ini, waktu yang sangat begitu singkat aku rasakan bersama ibuku. Sungguh, saat itu aku hanya seorang anak kecil yang belum mengerti. Bagaimana rasa sakit kehilangan seseorang yang paling berharga di dunia, aku tidak tahu. Bahkan, aku binggung bagaimana harus mengekspresikan perasaanku.
Aku tidak tahu, aku sungguh tidak tahu apa yang aku lakukan saat ibuku meninggalkanku. Dimana aku? Apa yang aku lakukan? Apa yang aku pikirkan? Perasaan apa yang ada di hatiku saat itu? Aku sungguh tidak tahu. Aku hanya seorang anak kecil yang tidak mengerti tentang pahit manis kehidupan dunia. Anak kecil yang hanya berharap selalu terpenuhi dengan kasih sayang kedua orang tuanya.
Kata mereka, aku meneteskan air mata saat aku diberitahu bahwa ibuku pergi untuk selamanya, pergi dari dunia ini, meninggalkanku, dan tidak akan pernah kembali untuk bersama diriku lagi. Kata mereka, aku selalu menangis dikala merindukan ibuku.
Hanya beberapa kenangan yang aku ingat hingga saat ini, kenangan saat aku dan ibuku bersama, kenangan terakhir ia bersamaku. Bagaimana rasa bahagia ia menggenggam tangannku, mengelilingi taman bunga bersama, melindungiku dari segala macam bahaya. 
Kalau saja aku tahu itu, saat terakhir aku bisa bersamanya, mungkin aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terakhir bersamanya. Kalau saja Tuhan memberitahu kapan ibuku akan pergi, aku akan terus meminta agar nyawanya ditukar oleh nyawaku. Pasti, apapun akan aku lakukan jika aku mengetahui itu semua.
Saat dimana aku mulai mengerti, mulai bisa merasakan bagaimana arti kehilangan yang sesungguhnya. Aku pun sempat berfikir dan membuatku bertanya-tanya, kenapa Tuhan begitu teganya memisahkan aku dan dirinya? kenapa bukan aku saja yang pergi kembali kepadamu?. Tuhan sungguh tidak adil, bagaimana bisa ia melakukan semua ini terhadapku. Bahkan, Tuhan tak memberikan kesempatan pada ku untuk mengatakan Aku mencintaimu ibu.
Kenapa begitu cepat ia pergi dari sisiku? kenapa harus ibuku? kenapa tak terpikirkan kala aku kecil, untuk mengatakan aku mencintaimu ibu. Dikala sedih dan rasa kesepianku, aku sangat marah pada Tuhan. Bila bukan dia, siapa lagi Tuhan yang dapat mengerti diriku?. Hanya ibuku. Hanya sosok seorang ibu yang akan sangat mengerti apa yang dirasakan anaknya, walaupun itu tersimpan jauh di dalam hati. Semua rasa kesepian yang membuat diriku tak mengerti tentang rasa ini yang terus muncul. Membuat aku marah dan kecewa terhadap diriku sendiri. Betapa bodohnya aku kala itu hingga memiliki pikiran buruk seperti itu terhadap Tuhan.
Aku hanya bisa mencoba mengingat dan merasakan kembali semua kenangan terindah dalam hidupku bersama ibu. Mencoba mengenang kembali semua itu, semakin menambah rasa kehilangan itu kembali dan tidak pergi.
Bisakah aku bersamanya kembali? Pertanyaan itu yang sering aku lontarkan, entah pada siapa aku bertanya karena hanya diriku yang tahu, tapi apalah daya engkau telah pergi ibu, meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Semakin bertambahnya usia, semakin aku dewasa, aku tahu apa rencana Tuhan sesungguhnya, tidak mungkin ia memisahkan aku dengan ibuku tanpa sebab akibat. Semua memang sudah jalannya, semua sudah takdir kehidupanku yang tidak dapat aku mencegah dan merubahnya.
Hanya perasaan dalam hati yang terus memikirkan kenangan-kenangan indah bersamanya, kenangan yang tidak akan pernah terulangi lagi. Semuanya hanya tinggal kenangan yang akan selalu aku ingat dan aku simpan di dalam lubuk hatiku paling terdalam.
Hanya potret dirimu yang tersisa, yang bisa aku pandangi kalaku merindukanmu, kalaku ingin menangis, kalaku ingin mengadukan keluh kesah hidup ini. Saat ini, kuteruskan hidupku tanpa dirimu ibu.
IBU, aku ingin sekali merasakan bagaimana engkau mengajariku cara membaca dan menulis, mengantarku pergi ke sekolah dan menungguku saat aku pulang sekolah.
IBU, aku ingin sekali engkau melihat perkembanganku di sekolah, memarahiku dan menasehatiku saat aku melakukan kesalahan.
IBU, aku ingin sekali melihatmu mengajariku bagaimana caranya mengaji dan mengerjakan salat.
IBU, aku ingin sekali salat berjamaah dengan lengkap bersamamu dan juga ayah.
IBU, aku ingin sekali menanyakan bagaimana kabar mu.
IBU, aku ingin sekali kau menemaniku saat sepi dan kegundahan hatiku muncul.
IBU, aku ingin sekali mendengarmu mengucapkan selamat ulang tahun padaku, begitupun aku sebaliknya, ingin sekali memberikan kebahagiaan saat engkau bertambah usia.
IBU, aku ingin sekali mengabadikan setiap peristiwaku bersama dengan dirimu, membingkai setiap potret dirimu bersamaku.
IBU, aku ingin sekali engkau melihat pertumbuhanku hingga aku dewasa, aku ingin sekali engkau disisiku saat aku menikah nanti.
Bahkan, aku ingin sekali engkau bisa merasakan menimang anakku, yaitu cucumu.
Banyak sekali keinginan yang aku harapkan, keinginan yang sudah jelas jawabannya tidak akan terwujud sama sekali. Bahkan saat peristirahatan terakhirmu pun aku begitu terlalu kecil untuk mengantarmu hingga kesana. Aku tidak tahu, apakah jika kau masih hidup di dunia dan tahu bagaimana tingkah laku anakmu ini. Apakah ada perasaan menyesal memiliki anak sepertiku, sungguh aku sangat takut.
Jika boleh aku terus berandai-andai dan berharap tentang dirimu ibu, aku akan berucap. Andaikan aku bisa tetap bersamamu ibu, di manapun tempat kau berada saat ini. Mungkin hati ini akan sangat lebih bahagia, mungkin mata ini tidak meneteskan air mata, mungkin telinga ini akan terus mendengar suara lembutmu, mungkin jiwa dan raga ini akan ikhlas meninggalkan segalanya, aku dapat mengabaikan semua mimpi-mimpi dan ambisiku di dunia ini, apa yang telah kudapat di dunia ini. Asalkan bisa bersama denganmu, asalkan ada dirimu yang tetap disisiku, asalkan aku bisa melihatmu tetap berada di dunia ini. Aku rela meninggalkan semuanya demi rasa cinta yang ada untuk dirimu.
Ibu, ibu, dan ibu. Seperti ucapan pepatah “Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah” bahkan akupun tidak sempat membalas apa yang telah dilakukan ibuku sepanjang hidupnya saat bersamaku. Tak mampu aku membalas setiap pengorbanannya, bahkan sama sekali tak bisa aku membalas walau, sedikitpun tetesan keringat ibuku.
Tak pernah lupa aku menyebutkan namamu disetiap sujudku karena saat ini hanya kumpulan doa disetiap sujud dan salatku, yang dapat aku panjatkan hanya untuk ibuku tercinta.  Aku curahkan semua isi hatiku yang aku adukan pada Tuhan, bagaimana rasa hati ini yang sangat merindukanmu. Aku berharap di tempat peristirahatanmu yang terakhirmu ibu, bisa mengantarkan dirimu disisi Tuhan.
Kau tahu ibu, saat aku merindukanmu hanya mendengarkan alunan lagu tentang ibu saja aku bisa meneteskan air mata. Aku mencoba menutup rasa rinduku padamu, aku takut akan perasaan yang menginginkanmu tetap di sisiku kembali lagi, tetapi aku mencoba untuk tidak melihat kembali ke belakang.
Aku tak tahu, esok aku akan seperti apa? Aku memang sudah megikhlaskanmu untuk pergi dariku, tapi aku takut engkau kecewa terhadap apa yang aku lakukan di dunia ini. Bahkan aku takut jika aku telah tiada nanti, engkau tidak akan mau melihatku sebagai anakmu karena malu dengan perbuatanku semasa hidupku.
Ibu, engkaulah bidadari surgaku yang aku dapatkan, walau aku hanya merasakannya dengan waktu yang singkat. Aku bersyukur mendapatkanmu, kau bagaikan hadiah terindah yang diberikan Tuhan untukku. Terima kasih Tuhan dan tolong maafkanlah hambamu ini karena telah berburuk sangka terhadapmu.

Waktu memang tidak akan bisa terulang kembali, tapi bersediakah engkau menunggu anakmu ini, ibu. Aku akan bersamamu kembali ibu. Maafkan aku ibu, maafkan anakmu ini, maafkan aku yang tidak bisa sedikitpun membalas jeripayahmu. Terima kasih telah melahirkanku di dunia ini, bisa membuatku merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia. Seribu kata maaf dan terima kasih pun tidak cukup aku lontarkan, tapi sungguh maafkan aku dan terima kasih banyak ibuku. Aku ingin bersamamu kembali, aku hanya mencintai dirimu. Sekarang aku mengerti siapa yang disebut dengan cinta sejati. Jawabannya adalah IBU, itulah cinta sejatiku, kaulah cinta sejatiku ibu, cinta dunia dan akhiratku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAHABAT

SAHABAT Dulu kita seperti menara Jauh, tak rasakan apa-apa Sekarang kita seperti udara Dekat, tak ada keterbatasan Pertem...