Ketika
rindu ingin bertemu denganmu, sesak rasanya hati ini. Ketika pikiranku terus bergejolak
memikirkanmu, perihnya mata ini hingga meneteskan butiran air mata. Ketika kata
ucapan cinta tak tersampaikan, penyeselan yang timbul tak henti-henti kurasakan. Ingin sekali rasanya bertemu denganmu, walau hanya dalam mimpi yang
singkat. Ingin sekali aku mengutarakan apa yang aku rasakan, tetapi waktu tidak
terulang kembali. Ingin sekali aku menangis dalam pelukanmu, saat hati ini
gundah. Ingin sekali aku membalas kasih sayangmu, tetapi aku tidak sempat. Kini
anakmu telah tumbuh dewasa, IBU, aku ingin bersamamu kembali.
IBU.
Satu kata, ketika setiap seorang anak ditanya, siapakah yang paling kau cintai
di dunia ini? semuanya akan menjawab Ibuku, tanpa terkecuali. Iya benar,
seorang wanita yang mengandungku, melahirkanku ke dunia ini, menjagaku,
merawatku, memberiku kasih sayang yang melimpah, bahkan berkorban apapun demi seorang
anak yang sangat dicintainya. Cinta pertama dan cinta sejatiku.
Seorang
ibu bagai malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untukku, ibu yang selalu
tersenyum ketika aku menangis, ibu yang selalu mengusap pipiku ketika
berlinangan air mata, ibu yang juga terbangun dari tidurnya di kala malam kuterbangun, ibu yang terjaga tidurnya dikala merawatku saat aku jatuh sakit, dan
ibu yang memanjakan diriku bagai putri raja yang mudah mendapatkan segalanya. Ia
selalu ada kapanpun anaknya membutuhkannya.
Aku
sangat merindukan itu semua, merindukan semua yang dilakukan ibuku. Kasih
sayang, belaian lembut jemari tangan mengusap kepalaku, suara tawa ketika aku
melakukan kesalahan nakal, dan dekapan hangat yang menyentuh tubuhku. Aku rindu
kepada dirimu ibu, sangat merindukan dirimu. Aku yakin kau juga tahu bagaimna
rasa rinduku, tapi Tuhan berkata lain, Tuhan merubah takdir kehidupanku saat
itu juga. Mengambil kembali seorang yang paling berharga dalam hidupku untuk
selama-lamanya dan memulai hidupku tanpa dirimu ibu.
Hanya
tiga tahun, tiga tahun lamanya semenjak aku dilahirkan di dunia ini, waktu yang
sangat begitu singkat aku rasakan bersama ibuku. Sungguh, saat itu aku hanya
seorang anak kecil yang belum mengerti. Bagaimana rasa sakit kehilangan
seseorang yang paling berharga di dunia, aku tidak tahu. Bahkan, aku binggung
bagaimana harus mengekspresikan perasaanku.
Aku
tidak tahu, aku sungguh tidak tahu apa yang aku lakukan saat ibuku
meninggalkanku. Dimana aku? Apa yang aku lakukan? Apa yang aku pikirkan?
Perasaan apa yang ada di hatiku saat itu? Aku sungguh tidak tahu. Aku hanya
seorang anak kecil yang tidak mengerti tentang pahit manis kehidupan dunia.
Anak kecil yang hanya berharap selalu terpenuhi dengan kasih sayang kedua orang
tuanya.
Kata
mereka, aku meneteskan air mata saat aku diberitahu bahwa ibuku pergi untuk
selamanya, pergi dari dunia ini, meninggalkanku, dan tidak akan pernah kembali
untuk bersama diriku lagi. Kata mereka, aku selalu menangis dikala merindukan
ibuku.
Hanya
beberapa kenangan yang aku ingat hingga saat ini, kenangan saat aku dan ibuku
bersama, kenangan terakhir ia bersamaku. Bagaimana rasa bahagia ia menggenggam
tangannku, mengelilingi taman bunga bersama, melindungiku dari segala macam
bahaya.
Kalau saja aku tahu itu, saat terakhir aku bisa bersamanya, mungkin aku
tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terakhir bersamanya. Kalau saja Tuhan
memberitahu kapan ibuku akan pergi, aku akan terus meminta agar nyawanya
ditukar oleh nyawaku. Pasti, apapun akan aku lakukan jika aku mengetahui itu
semua.
Saat
dimana aku mulai mengerti, mulai bisa merasakan bagaimana arti kehilangan yang
sesungguhnya. Aku pun sempat berfikir dan membuatku bertanya-tanya, kenapa
Tuhan begitu teganya memisahkan aku dan dirinya? kenapa bukan aku saja yang
pergi kembali kepadamu?. Tuhan sungguh tidak adil, bagaimana bisa ia melakukan
semua ini terhadapku. Bahkan, Tuhan tak memberikan kesempatan pada ku untuk mengatakan
Aku mencintaimu ibu.
Kenapa
begitu cepat ia pergi dari sisiku? kenapa harus ibuku? kenapa tak terpikirkan
kala aku kecil, untuk mengatakan aku mencintaimu ibu. Dikala sedih dan rasa
kesepianku, aku sangat marah pada Tuhan. Bila bukan dia, siapa lagi Tuhan yang
dapat mengerti diriku?. Hanya ibuku. Hanya sosok seorang ibu yang akan sangat
mengerti apa yang dirasakan anaknya, walaupun itu tersimpan jauh di dalam hati.
Semua rasa kesepian yang membuat diriku tak mengerti tentang rasa ini yang terus
muncul. Membuat aku marah dan kecewa terhadap diriku sendiri. Betapa bodohnya
aku kala itu hingga memiliki pikiran buruk seperti itu terhadap Tuhan.
Aku
hanya bisa mencoba mengingat dan merasakan kembali semua kenangan terindah
dalam hidupku bersama ibu. Mencoba mengenang kembali semua itu, semakin
menambah rasa kehilangan itu kembali dan tidak pergi.
Bisakah
aku bersamanya kembali? Pertanyaan itu yang sering aku lontarkan, entah pada
siapa aku bertanya karena hanya diriku yang tahu, tapi apalah daya engkau telah
pergi ibu, meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Semakin bertambahnya
usia, semakin aku dewasa, aku tahu apa rencana Tuhan sesungguhnya, tidak
mungkin ia memisahkan aku dengan ibuku tanpa sebab akibat. Semua memang sudah
jalannya, semua sudah takdir kehidupanku yang tidak dapat aku mencegah dan
merubahnya.
Hanya
perasaan dalam hati yang terus memikirkan kenangan-kenangan indah bersamanya,
kenangan yang tidak akan pernah terulangi lagi. Semuanya hanya tinggal kenangan
yang akan selalu aku ingat dan aku simpan di dalam lubuk hatiku paling
terdalam.
Hanya
potret dirimu yang tersisa, yang bisa aku pandangi kalaku merindukanmu, kalaku ingin menangis, kalaku ingin mengadukan keluh kesah hidup ini. Saat
ini, kuteruskan hidupku tanpa dirimu ibu.
IBU, aku ingin sekali merasakan bagaimana engkau
mengajariku cara membaca dan menulis, mengantarku pergi ke sekolah dan
menungguku saat aku pulang sekolah.
IBU, aku ingin sekali engkau melihat perkembanganku
di sekolah, memarahiku dan menasehatiku saat aku melakukan kesalahan.
IBU, aku ingin sekali melihatmu mengajariku
bagaimana caranya mengaji dan mengerjakan salat.
IBU, aku ingin sekali salat berjamaah dengan lengkap
bersamamu dan juga ayah.
IBU, aku ingin sekali menanyakan bagaimana kabar mu.
IBU, aku ingin sekali kau menemaniku saat sepi dan
kegundahan hatiku muncul.
IBU, aku ingin sekali mendengarmu mengucapkan
selamat ulang tahun padaku, begitupun aku sebaliknya, ingin sekali memberikan
kebahagiaan saat engkau bertambah usia.
IBU, aku ingin sekali mengabadikan setiap
peristiwaku bersama dengan dirimu, membingkai setiap potret dirimu bersamaku.
IBU, aku ingin sekali engkau melihat pertumbuhanku
hingga aku dewasa, aku ingin sekali engkau disisiku saat aku menikah nanti.
Bahkan, aku ingin sekali engkau bisa merasakan
menimang anakku, yaitu cucumu.
Banyak
sekali keinginan yang aku harapkan, keinginan yang sudah jelas jawabannya tidak
akan terwujud sama sekali. Bahkan saat peristirahatan terakhirmu pun aku begitu
terlalu kecil untuk mengantarmu hingga kesana. Aku tidak tahu, apakah jika kau
masih hidup di dunia dan tahu bagaimana tingkah laku anakmu ini. Apakah ada
perasaan menyesal memiliki anak sepertiku, sungguh aku sangat takut.
Jika
boleh aku terus berandai-andai dan berharap tentang dirimu ibu, aku akan
berucap. Andaikan aku bisa tetap bersamamu ibu, di manapun tempat kau berada
saat ini. Mungkin hati ini akan sangat lebih bahagia, mungkin mata ini tidak
meneteskan air mata, mungkin telinga ini akan terus mendengar suara lembutmu, mungkin
jiwa dan raga ini akan ikhlas meninggalkan segalanya, aku dapat mengabaikan
semua mimpi-mimpi dan ambisiku di dunia ini, apa yang telah kudapat di dunia
ini. Asalkan bisa bersama denganmu, asalkan ada dirimu yang tetap disisiku,
asalkan aku bisa melihatmu tetap berada di dunia ini. Aku rela meninggalkan
semuanya demi rasa cinta yang ada untuk dirimu.
Ibu,
ibu, dan ibu. Seperti ucapan pepatah “Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak
Sepanjang Galah” bahkan akupun tidak sempat membalas apa yang telah dilakukan
ibuku sepanjang hidupnya saat bersamaku. Tak mampu aku membalas setiap
pengorbanannya, bahkan sama sekali tak bisa aku membalas walau, sedikitpun tetesan
keringat ibuku.
Tak
pernah lupa aku menyebutkan namamu disetiap sujudku karena saat ini hanya
kumpulan doa disetiap sujud dan salatku, yang dapat aku panjatkan hanya untuk
ibuku tercinta. Aku curahkan semua isi
hatiku yang aku adukan pada Tuhan, bagaimana rasa hati ini yang sangat
merindukanmu. Aku berharap di tempat peristirahatanmu yang terakhirmu ibu, bisa
mengantarkan dirimu disisi Tuhan.
Kau
tahu ibu, saat aku merindukanmu hanya mendengarkan alunan lagu tentang ibu saja
aku bisa meneteskan air mata. Aku mencoba menutup rasa rinduku padamu, aku
takut akan perasaan yang menginginkanmu tetap di sisiku kembali lagi, tetapi
aku mencoba untuk tidak melihat kembali ke belakang.
Aku
tak tahu, esok aku akan seperti apa? Aku memang sudah megikhlaskanmu untuk
pergi dariku, tapi aku takut engkau kecewa terhadap apa yang aku lakukan di
dunia ini. Bahkan aku takut jika aku telah tiada nanti, engkau tidak akan mau
melihatku sebagai anakmu karena malu dengan perbuatanku semasa hidupku.
Ibu,
engkaulah bidadari surgaku yang aku dapatkan, walau aku hanya merasakannya
dengan waktu yang singkat. Aku bersyukur mendapatkanmu, kau bagaikan hadiah
terindah yang diberikan Tuhan untukku. Terima kasih Tuhan dan tolong maafkanlah
hambamu ini karena telah berburuk sangka terhadapmu.
Waktu
memang tidak akan bisa terulang kembali, tapi bersediakah engkau menunggu anakmu
ini, ibu. Aku akan bersamamu kembali ibu. Maafkan aku ibu, maafkan anakmu ini,
maafkan aku yang tidak bisa sedikitpun membalas jeripayahmu. Terima kasih telah
melahirkanku di dunia ini, bisa membuatku merasakan bagaimana rasanya hidup di
dunia. Seribu kata maaf dan terima kasih pun tidak cukup aku lontarkan, tapi
sungguh maafkan aku dan terima kasih banyak ibuku. Aku ingin bersamamu kembali,
aku hanya mencintai dirimu. Sekarang aku mengerti siapa yang disebut dengan
cinta sejati. Jawabannya adalah IBU, itulah cinta sejatiku, kaulah cinta
sejatiku ibu, cinta dunia dan akhiratku.