Aku
tidak tahu dimana hatiku akan berlabuh, aku tidak tahu dimana hatiku akan
menentukan pilihannya, dan aku juga tidak tahu siapa yang akan memiliki hati
ini.
Karena
aku hanya akan mencintaimu, walaupun sangat menyakitkan.
Aku
seorang perempuan yang bodoh karena penuh harap akan sesuatu hal yang tidak
mungkin aku dapatkan. Memiliki angan-angan setinggi langit, terus bermimpi
tanpa dapat mewujudkannya. Tepatnya aku tidak akan mungkin mendapatkan cinta
darinya, tidak akan mungkin. Walaupun kutahu semua itu, hati ini tetap tidak
beralih sedikitpun.
Aku memang pernah memiliki cintamu, tapi itu dulu sekarang tidak
lagi. Tidak ada tempat untuk diriku di hatimu. Aku dan dirinya adalah sesuatu
yang sangat berbeda, dengan cepat kau mengalihkan hatimu untuknya. Tentu saja
kau mudah berpaling pada siapapun, sangat mudah jauh terpisah dariku, aku tahu
itu tidak sulit untukmu, dan aku juga tahu itu tidak mudah untukku. Apa
cintanya lebih besar dari cintaku? Kaumembuat aku gelisah, kaumembuat aku
menangis seperti orang bodoh, seperti anak kecil. Aku hanya ingin menertawakan
tingkahku ini.
Terlalu banyak tetesan air mata
yang aku keluarkan untukmu, meskipun sakit, sakit, mungkin sangat sakit, tapi
masih sekali lagi AKU SANGAT MENCINTAIMU. Saat air mataku berlimpah menjadi
sungai, menjadi lautan, dan menjadi samudera. Apakah kau ingin lebih tahu,
tentangku? Seseorang yang hanya mencintaimu ini. Tak bisakah kauberada
disisiku? Sehingga aku dapat tertawa tanpa henti dan menangis tanpa henti bersamamu.
Linangan air mata ini semua adalah rasa penyesalanku, rasa
penyesalan yang begitu mendalam, Kebodohan yang selalu terulang, kesalahan yang
dibuat oleh diriku sendiri, dan harus aku juga yang merasakan rasa sakit ini.
Aku berjuang seorang diri merasakan rasa sakit hati ini, mencoba bertahan
mencintainya. Sejak lama di dalam hatiku penuh awan dan hujan yang masih bisa
sabar kubendung. Tapi, sungguh ingin kuungkapkan padamu semua perasaan cinta
ini. Perasaan cinta yang begitu gila, namun semuanya terasa begitu sulit untuk
mengungkapkannya.
Sejak aku dan dirinya tidak
bersama lagi, aku berubah, berubah menjadi sosok perempuan bodoh yang dibutakan
oleh cinta. Memandangnya dari kejauhan, melamun memikirkannya, hingga air mata
ini tak kuat untuk bertahan. Berharap akan ada keajaiban yang datang padaku dan
aku bisa bersamanya kembali.
“Masih memikirkannya? Kenapa kausulit sekali untuk
melepasnya,” ucap Andrian membuyarkan lamunanku, sambil mengusap linangan air
mataku dengan kedua ibu jarinya
“Bukankah sudah sering kukatakan, ada aku di sini. Untuk apa
kaumenunggunya,” lanjutnya dengan tawa yang menghias wajahnya.
Aku hanya dapat memandangi, menatap dalam matanya. Betapa tulus
dia mencintaiku, tapi aku melupakan dia, dia yang selalu ada untukku. Dia yang
menghiburku saat aku merasakan sedih, dia memberikan seulas senyum walaupun
diriku marah, akupun juga meluapkan rasa amarahku padanya. Dia juga memberi
semangat untuk aku melupakan pria itu dan beralih pada dirinya. Tatapan mata
sendu dan senyuman hangat itu yang terus menghias wajahnya, tapi aku sama
sekali tak melihat dirinya, sedikitpun tak meliriknya, bahkan memikirkannya.
Dirinya yang selalu menatapku, berada di sisiku, dan selalu ada untukku. Tapi,
hati ini tidak mampu untuk menerima dirinya karena rasa cinta yang ku rasakan
sendiri terlalu dalam. Aku hanya bisa meluapkan ini dengan tangisan, hingga aku
sulit untuk bernafas
“Kau tahu, semakin dekat aku mendapatkanmu. Aku medapatkan
ketakutan yang lebih, kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini. Bahkan jika
dari jarak jauh, aku bisa tetap melihat ke arahmu, aku bisa melihatmu. Itulah
apa yang kau sebut cinta bukan? kaujuga merasakannya, tapi bukan untukku.
Sedikit demi sedikit aku melangkah ke arahmu, aku coba sedikit demi sedikit. Tak lama kemudian, aku sudah berada
cukup dekat untuk melihatmu. Tapi, hanya dengan memandangimu seperti ini, tidak
akan ada akhirnya. Hari ini, sekali lagi seorang pria seperti kuberdiri di
sini. Masih menunggu balasan cintamu,” ucap Andrian
Mendengarnya mengucapkan semua kalimat itu, membuatku semakin
sakit, sakit, sangat sakit. Aku begitu takut untuk meninggalkan perasaan ini
dan beralih padanya. Malam sunyi dan sejuk di taman ini seperti malam yang akan
kedatangan badai. Matanya memang tak menatapku saat ini, tapi aku tahu terlalu
banyak rasa yang berkecamuk dibenaknya, aku mencoba memberanikan diriku untuk
menggenggam tangannya, mencoba membuatnya beralih dan menatapku. Air mata ini
tidak dapat aku tahan lagi, aku tidak peduli berapa banyak tetesan air mata ini
yang akan membuat wajahku basah. Ingin sekali rasanya aku melarikan diri, aku
ingin meletakan dan meninggalkan semuanya dan beristirahat menenangkan hatiku.
“Aku tidak dapat membedakan apa
yang aku rasakan padanya, apakah ini perasaan benci? Atau perasaan cinta? Seandainya
saja ada yang bisa memberitahuku perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Tolong aku, Andrian. aku kehilangan arah, memoriku berantakan, tapi kaubegitu
tenang Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Tak
bisakah kaumenunggu cintaku? hingga aku bisa berada disisimu. Apa kaumasih mau menggengam tanganku,
walaupun kautidak mencintaiku lagi, tunggulah aku hingga aku sadar akan
kebodohan ini, tunggu aku hingga aku sadar aku mencintaimu. Saat waktunya tiba
aku berlari padamu, aku akan mengatakan padamu semua yang tersembunyi dalam
hatiku. Kautahu, semakin kaubersikap seperti ini padaku, ini sedikit
mengguncang emosiku. Aku sungguh takut akan semuanya.”
Aku tak tahu kekuatan atau
keberanian apa sehingga aku bisa mengucapkan semua itu padanya, mengucapkannya
tanpa berfikir panjang. Sudah jelas aku menyakiti hatinya, tapi aku masih saja
berani meminta untuk dia tetap menungguku. Kebodohan apa lagi yang aku buat,
keegoisan hati ini yang tidak dapat aku cegah.
“Aku ingin
selalu bersama dirimu saat kautertawa tanpa henti dan menangis tanpa henti
bersamaku karena aku hanya akan mencintaimu, walaupun sangat menyakitkan. Aku
tahu cinta ini bertepuk sebelah tangan. Jika kau mencintaiku tolong, lihat
kembali ke arahku, sedikit lebih cepat dan tak melepaskan pandanganmu dariku.
Tolong tetap genggam tanganku sebelum aku beralih darimu, sebelum bara cintaku
padam padamu,” ucap Andrian
Mendengar
ucapannya hatiku terasa tersambar petir, begitu sangat menusuk dan begitu
perih. Tapi, inilah ganjaran yang setimpal untukku, bahkan ini belum cukup.
Berani-beraninya aku meminta agar dia tetap melihatku dan menugguku. Aku hanya
bisa menatapnya dengan tatapan kosong, melepas perlahan genggaman tangannya,
membiarkan dia pergi perlahan dari sisiku. Mungkin ini akan menjadi terakhir
kalinya aku dapat melihatnya, ini akan menjadi perpisahan yang sangat
menyakitkan, tidak ada salam perpisahan ataupun senyuman hangat. Tapi, lebih
baik seperti ini agar aku bisa menghilangkan rasa bersalah sedikit demi
sedikit. Aku harus siap untuk kehilangan dirinya. Tangisan ini pun tak ada
gunanya, kesempatan yang sangat berharga aku buang begitu saja, melepaskan
dirinya yang begitu berharga. Ribuan kali aku melepaskannya, kali ini aku tidak
akan mendapatkannya kembali.
-----
Satu hari
terasa lebih lama rasanya, hari ini terasa lebih kosong dan ada sesuatu yang
menghilang dari biasanya, aku binggung apa yang harus aku lakukan. Seperti
tidak ada yang mengisi hatiku, semuanya hampa. Aku merindukannya, aku
kehilangan dia di sisiku, mungkin hanya secarik kertas dan sebuah bolpoin ini
yang bisa mengutarakan semua isi hatiku. Lagi, aku terus meneteskan air mata
penyesalan ini. Sepertinya tidak ada air mata kebahagiaan untukku. Sekata demi
kata aku tuliskan, aku akan mengirimkan surat ini pada Andrian. Aku akan pergi,
aku akan pergi meninggalkan kenangan pahit ini. Melepaskan semuanya, pergi
menjauh tanpa membekaskan jejak sedikitpun. Aku tidak akan menjadi bayangan
hitam lagi bagi siapapun.
------------------------------------------------------------------
Dear, A
Dulu, ketika
hatiku gelap kau selalu memberikan cahaya dan melindungiku seperti
kunang-kunang. Ketika air mataku menutupi penglihatanku, kaubagaikan sihir
datang memelukku erat. Hingga aku terjatuh dan terpuruk, kautetap menolongku
untuk tetap bangun dan berdiri. Berada di sisimu, seperti merasakan bintang
berkelip-kelip disekitarku. Kaubegitu berharga untukku, bisa mengenalmu, bisa
mendapatkan cinta darimu. Aku seperti mendapatkan sebuah penghargaan, aku
sungguh beruntung, hanya aku wanita yang beruntung karena mendapatkan semua itu
darimu. Aku sangat berterima kasih untukmu yang telah mau berada di sisiku.
Setiap jam, menit, detik, dan selamanya aku tahu kauakan selalu mencintaiku.
Kauadalah orang yang membuatku tersenyum, kauadalah orang yang membuatku
menangis, dan kaujuga adalah orang yang meraih hatiku lewat kehangatan
pelukanmu. Kenangan bersamamu tak bisa kuhapus, tak bisa kulupakan hanya
sedikitpun. Aku akan mengingat kenangan ini dan ku simpan semuanya di dalam
hatiku, tidak akan aku tinggalkan sedikitpun walau itu hanya setitik.
Sebenarnya,
aku sungguh begitu takut akan angin yang sunyi, yang menjadi dingin dan sangat
dingin. Aku takut tidak akan ada lagi yang menghangatkanku, aku harus bisa
bertahan tanpa penghangat itu.
Kaubegitu tahu
bagaimana diriku, kausangat memahamiku melebihi diriku sendiri. Bagaimana aku
begitu mencintai orang itu. Karena orang itu pula, hatiku sakit. Hatiku telah
tercabik-cabik, kenangan itu pun terasa menusuk disetiap hariku. Tak mungkin
juga aku tetap berlari ke arahmu, betapa jahatnya aku tetap melakukan itu. Tak
sanggup ku ungkapkan bagaimana rasanya aku mencintaimu, tak mungkin aku
mengatakannya padamu. Aku bukanlah yang terbaik untukmu, aku tidak memiliki
keberanian untuk menatap mu secara langsung dan mengatakannya. Aku sungguh
malu, untuk menemuimu, tapi ku beranikan diri hanya melalui secarik kertas
surat ini. Terima kasih kau telah hadir di hidupku, maafkan aku hingga saat ini
aku tetap tidak berlari kepadamu. Jangan melihat ke belakang, aku tidak sanggup
untuk menggenggam tanganmu. Semua cerita yang kita bagi bersama, sekarang itu
semua hanya menjadi bagian dari masa lalu. Bebaskan aku, biarkan aku pergi.
Biarkan aku pergi agar aku bisa beristirahat sejenak. Aku berjanji aku tidak
akan menyia-nyiakan air mata ini untuk orang yang tidak mencintaiku.
Aku telah
mencintaimu sekarang dan terus mencintaimu. Aku harus menjalani ini, kita harus
melanjutkan kehidupan kita. Lupakanlah aku, biarkanlah aku pergi, dan hiduplah
dengan bahagia. Aku akan menghapus cintaku padamu. Jika, mungkin takdir akan
menyatukan kita bersama, aku tidak akan pergi, aku akan berlari ke arahmu dan
memelukmu erat dan tidak akan melepaskannya.
Selamat tinggal
From : Nina
-------------------------------------------------------------------------------------------------




