Jumat, 28 Oktober 2016

Hilang Dalam Cinta


Aku tidak tahu dimana hatiku akan berlabuh, aku tidak tahu dimana hatiku akan menentukan pilihannya, dan aku juga tidak tahu siapa yang akan memiliki hati ini.
Karena aku hanya akan mencintaimu, walaupun sangat menyakitkan.

Aku seorang perempuan yang bodoh karena penuh harap akan sesuatu hal yang tidak mungkin aku dapatkan. Memiliki angan-angan setinggi langit, terus bermimpi tanpa dapat mewujudkannya. Tepatnya aku tidak akan mungkin mendapatkan cinta darinya, tidak akan mungkin. Walaupun kutahu semua itu, hati ini tetap tidak beralih sedikitpun.

Aku memang pernah memiliki cintamu, tapi itu dulu sekarang tidak lagi. Tidak ada tempat untuk diriku di hatimu. Aku dan dirinya adalah sesuatu yang sangat berbeda, dengan cepat kau mengalihkan hatimu untuknya. Tentu saja kau mudah berpaling pada siapapun, sangat mudah jauh terpisah dariku, aku tahu itu tidak sulit untukmu, dan aku juga tahu itu tidak mudah untukku. Apa cintanya lebih besar dari cintaku? Kaumembuat aku gelisah, kaumembuat aku menangis seperti orang bodoh, seperti anak kecil. Aku hanya ingin menertawakan tingkahku ini.
Terlalu banyak tetesan air mata yang aku keluarkan untukmu, meskipun sakit, sakit, mungkin sangat sakit, tapi masih sekali lagi AKU SANGAT MENCINTAIMU. Saat air mataku berlimpah menjadi sungai, menjadi lautan, dan menjadi samudera. Apakah kau ingin lebih tahu, tentangku? Seseorang yang hanya mencintaimu ini. Tak bisakah kauberada disisiku? Sehingga aku dapat tertawa tanpa henti dan menangis tanpa henti bersamamu.
Linangan air mata ini semua adalah rasa penyesalanku, rasa penyesalan yang begitu mendalam, Kebodohan yang selalu terulang, kesalahan yang dibuat oleh diriku sendiri, dan harus aku juga yang merasakan rasa sakit ini. Aku berjuang seorang diri merasakan rasa sakit hati ini, mencoba bertahan mencintainya. Sejak lama di dalam hatiku penuh awan dan hujan yang masih bisa sabar kubendung. Tapi, sungguh ingin kuungkapkan padamu semua perasaan cinta ini. Perasaan cinta yang begitu gila, namun semuanya terasa begitu sulit untuk mengungkapkannya. 
Sejak aku dan dirinya tidak bersama lagi, aku berubah, berubah menjadi sosok perempuan bodoh yang dibutakan oleh cinta. Memandangnya dari kejauhan, melamun memikirkannya, hingga air mata ini tak kuat untuk bertahan. Berharap akan ada keajaiban yang datang padaku dan aku bisa bersamanya kembali.
 “Masih memikirkannya? Kenapa kausulit sekali untuk melepasnya,” ucap Andrian membuyarkan lamunanku, sambil mengusap linangan air mataku dengan kedua ibu jarinya 
“Bukankah sudah sering kukatakan, ada aku di sini. Untuk apa kaumenunggunya,” lanjutnya dengan tawa yang menghias wajahnya.
Aku hanya dapat memandangi, menatap dalam matanya. Betapa tulus dia mencintaiku, tapi aku melupakan dia, dia yang selalu ada untukku. Dia yang menghiburku saat aku merasakan sedih, dia memberikan seulas senyum walaupun diriku marah, akupun juga meluapkan rasa amarahku padanya. Dia juga memberi semangat untuk aku melupakan pria itu dan beralih pada dirinya. Tatapan mata sendu dan senyuman hangat itu yang terus menghias wajahnya, tapi aku sama sekali tak melihat dirinya, sedikitpun tak meliriknya, bahkan memikirkannya. Dirinya yang selalu menatapku, berada di sisiku, dan selalu ada untukku. Tapi, hati ini tidak mampu untuk menerima dirinya karena rasa cinta yang ku rasakan sendiri terlalu dalam. Aku hanya bisa meluapkan ini dengan tangisan, hingga aku sulit untuk bernafas
“Kau tahu, semakin dekat aku mendapatkanmu. Aku medapatkan ketakutan yang lebih, kurasa aku tidak bisa menghentikan cinta ini. Bahkan jika dari jarak jauh, aku bisa tetap melihat ke arahmu, aku bisa melihatmu. Itulah apa yang kau sebut cinta bukan? kaujuga merasakannya, tapi bukan untukku. Sedikit demi sedikit aku melangkah ke arahmu, aku coba sedikit demi sedikit. Tak lama kemudian, aku sudah berada cukup dekat untuk melihatmu. Tapi, hanya dengan memandangimu seperti ini, tidak akan ada akhirnya. Hari ini, sekali lagi seorang pria seperti kuberdiri di sini. Masih menunggu balasan cintamu,” ucap Andrian
Mendengarnya mengucapkan semua kalimat itu, membuatku semakin sakit, sakit, sangat sakit. Aku begitu takut untuk meninggalkan perasaan ini dan beralih padanya. Malam sunyi dan sejuk di taman ini seperti malam yang akan kedatangan badai. Matanya memang tak menatapku saat ini, tapi aku tahu terlalu banyak rasa yang berkecamuk dibenaknya, aku mencoba memberanikan diriku untuk menggenggam tangannya, mencoba membuatnya beralih dan menatapku. Air mata ini tidak dapat aku tahan lagi, aku tidak peduli berapa banyak tetesan air mata ini yang akan membuat wajahku basah. Ingin sekali rasanya aku melarikan diri, aku ingin meletakan dan meninggalkan semuanya dan beristirahat menenangkan hatiku.
“Aku tidak dapat membedakan apa yang aku rasakan padanya, apakah ini perasaan benci? Atau perasaan cinta? Seandainya saja ada yang bisa memberitahuku perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan. Tolong aku, Andrian. aku kehilangan arah, memoriku berantakan, tapi kaubegitu tenang Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Tak bisakah kaumenunggu cintaku? hingga aku bisa berada disisimu. Apa kaumasih mau menggengam tanganku, walaupun kautidak mencintaiku lagi, tunggulah aku hingga aku sadar akan kebodohan ini, tunggu aku hingga aku sadar aku mencintaimu. Saat waktunya tiba aku berlari padamu, aku akan mengatakan padamu semua yang tersembunyi dalam hatiku. Kautahu, semakin kaubersikap seperti ini padaku, ini sedikit mengguncang emosiku. Aku sungguh takut akan semuanya.”
Aku tak tahu kekuatan atau keberanian apa sehingga aku bisa mengucapkan semua itu padanya, mengucapkannya tanpa berfikir panjang. Sudah jelas aku menyakiti hatinya, tapi aku masih saja berani meminta untuk dia tetap menungguku. Kebodohan apa lagi yang aku buat, keegoisan hati ini yang tidak dapat aku cegah.
“Aku ingin selalu bersama dirimu saat kautertawa tanpa henti dan menangis tanpa henti bersamaku karena aku hanya akan mencintaimu, walaupun sangat menyakitkan. Aku tahu cinta ini bertepuk sebelah tangan. Jika kau mencintaiku tolong, lihat kembali ke arahku, sedikit lebih cepat dan tak melepaskan pandanganmu dariku. Tolong tetap genggam tanganku sebelum aku beralih darimu, sebelum bara cintaku padam padamu,” ucap Andrian
Mendengar ucapannya hatiku terasa tersambar petir, begitu sangat menusuk dan begitu perih. Tapi, inilah ganjaran yang setimpal untukku, bahkan ini belum cukup. Berani-beraninya aku meminta agar dia tetap melihatku dan menugguku. Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong, melepas perlahan genggaman tangannya, membiarkan dia pergi perlahan dari sisiku. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku dapat melihatnya, ini akan menjadi perpisahan yang sangat menyakitkan, tidak ada salam perpisahan ataupun senyuman hangat. Tapi, lebih baik seperti ini agar aku bisa menghilangkan rasa bersalah sedikit demi sedikit. Aku harus siap untuk kehilangan dirinya. Tangisan ini pun tak ada gunanya, kesempatan yang sangat berharga aku buang begitu saja, melepaskan dirinya yang begitu berharga. Ribuan kali aku melepaskannya, kali ini aku tidak akan mendapatkannya kembali.
-----
Satu hari terasa lebih lama rasanya, hari ini terasa lebih kosong dan ada sesuatu yang menghilang dari biasanya, aku binggung apa yang harus aku lakukan. Seperti tidak ada yang mengisi hatiku, semuanya hampa. Aku merindukannya, aku kehilangan dia di sisiku, mungkin hanya secarik kertas dan sebuah bolpoin ini yang bisa mengutarakan semua isi hatiku. Lagi, aku terus meneteskan air mata penyesalan ini. Sepertinya tidak ada air mata kebahagiaan untukku. Sekata demi kata aku tuliskan, aku akan mengirimkan surat ini pada Andrian. Aku akan pergi, aku akan pergi meninggalkan kenangan pahit ini. Melepaskan semuanya, pergi menjauh tanpa membekaskan jejak sedikitpun. Aku tidak akan menjadi bayangan hitam lagi bagi siapapun.

------------------------------------------------------------------
Dear, A
Dulu, ketika hatiku gelap kau selalu memberikan cahaya dan melindungiku seperti kunang-kunang. Ketika air mataku menutupi penglihatanku, kaubagaikan sihir datang memelukku erat. Hingga aku terjatuh dan terpuruk, kautetap menolongku untuk tetap bangun dan berdiri. Berada di sisimu, seperti merasakan bintang berkelip-kelip disekitarku. Kaubegitu berharga untukku, bisa mengenalmu, bisa mendapatkan cinta darimu. Aku seperti mendapatkan sebuah penghargaan, aku sungguh beruntung, hanya aku wanita yang beruntung karena mendapatkan semua itu darimu. Aku sangat berterima kasih untukmu yang telah mau berada di sisiku. Setiap jam, menit, detik, dan selamanya aku tahu kauakan selalu mencintaiku. Kauadalah orang yang membuatku tersenyum, kauadalah orang yang membuatku menangis, dan kaujuga adalah orang yang meraih hatiku lewat kehangatan pelukanmu. Kenangan bersamamu tak bisa kuhapus, tak bisa kulupakan hanya sedikitpun. Aku akan mengingat kenangan ini dan ku simpan semuanya di dalam hatiku, tidak akan aku tinggalkan sedikitpun walau itu hanya setitik.
Sebenarnya, aku sungguh begitu takut akan angin yang sunyi, yang menjadi dingin dan sangat dingin. Aku takut tidak akan ada lagi yang menghangatkanku, aku harus bisa bertahan tanpa penghangat itu. 
Kaubegitu tahu bagaimana diriku, kausangat memahamiku melebihi diriku sendiri. Bagaimana aku begitu mencintai orang itu. Karena orang itu pula, hatiku sakit. Hatiku telah tercabik-cabik, kenangan itu pun terasa menusuk disetiap hariku. Tak mungkin juga aku tetap berlari ke arahmu, betapa jahatnya aku tetap melakukan itu. Tak sanggup ku ungkapkan bagaimana rasanya aku mencintaimu, tak mungkin aku mengatakannya padamu. Aku bukanlah yang terbaik untukmu, aku tidak memiliki keberanian untuk menatap mu secara langsung dan mengatakannya. Aku sungguh malu, untuk menemuimu, tapi ku beranikan diri hanya melalui secarik kertas surat ini. Terima kasih kau telah hadir di hidupku, maafkan aku hingga saat ini aku tetap tidak berlari kepadamu. Jangan melihat ke belakang, aku tidak sanggup untuk menggenggam tanganmu. Semua cerita yang kita bagi bersama, sekarang itu semua hanya menjadi bagian dari masa lalu. Bebaskan aku, biarkan aku pergi. Biarkan aku pergi agar aku bisa beristirahat sejenak. Aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakan air mata ini untuk orang yang tidak mencintaiku. 
Aku telah mencintaimu sekarang dan terus mencintaimu. Aku harus menjalani ini, kita harus melanjutkan kehidupan kita. Lupakanlah aku, biarkanlah aku pergi, dan hiduplah dengan bahagia. Aku akan menghapus cintaku padamu. Jika, mungkin takdir akan menyatukan kita bersama, aku tidak akan pergi, aku akan berlari ke arahmu dan memelukmu erat dan tidak akan melepaskannya. 

Selamat tinggal


From : Nina
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Apakah Kamu Ingat?


Seorang wanita yang mampu membuat mataku tak berpaling sedikit pun, wanita yang membuat mulutku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun, wanita yang membuat telingaku hanya ingin merasakan kesunyian, wanita yang membuat sekejap tubuhku menjadi kaku, wanita yang membuat diriku sulit untuk bernafas, wanita yang membuat otakku tak mampu untuk berfikir, dan wanita yang membuat diriku merasa waktu seakan berhenti sesaat. Ini pertama kalinya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan pertama kali ini juga aku tidak mengerti, apa yang terjadi pada diriku sendiri. Hanya satu hal yang kutahu, aku tahu ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Seorang pria yang tidak sengaja secara cepat dan mudah memberikan hatinya, itulah aku. Aku bertemu dengan seseorang wanita yang dalam hitungan detik mampu mengubah hatiku. Bagaimana ia menarik pandanganku dan bagaimana ia mempengaruhi pikiranku. Mendengar suaranya saja membuat hatiku gemetar tak karuan. Aku tidak tahu kebodohan atau kekuatan cinta apa yang datang padaku, tapi dialah satu-satunya wanita yang membuatku jatuh cinta.

Seorang wanita sederhana yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Saat aku pertama kali bertemu dengannya, dia mendapatkan kesempatan untuk mencuri hatiku. Dengan mudahnya hatiku telah tercuri begitu saja, hanya dengan sekali dia menatap mataku. Aku sungguh sudah dimabuk cinta, siapapun tolonglah diriku, tolong bantu aku, bantulah aku untuk berhenti bertingkah bodoh seperti ini, tapi apalah daya hati ini begitu bahagia. Hingga rasanya hati ini akan lepas meninggalkan sangkarnya.
Kauseperti cahaya, cahaya yang datang setelah hujan berlalu. Kaudatang dalam hatiku seperti ini. Cahaya yang tak perlu meminta izin untuk mengisi hatiku. Aku mencoba berusaha untuk meraih dan menggenggam cahaya itu, tapi begitu sulitnya aku mendapatkanmu. Bagaikan mencairkan bongkahan es yang begitu beku. Sekali lagi, aku percaya semua ini karena kekuatan cinta. Bongkahan es beku yang begitu dingin dan keras dapat dicairkan dengan hangatnya perasaan hati, yang begitu sabar untuk mendapatkan cinta sejatinya. Aku sudah berhasil mendapatkan cahaya itu dan aku tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Aku sangat mencintaimu. Aku yakin sekali hatiku tidak salah dalam menentukan pilihan, aku selalu megikuti isi hatiku. Kaulah selama ini, yang mungkin bukan seseorang yang dapat aku bayangkan. Cinta pertama yang aku rasakan, dan kaujugalah yang akan menjadi cinta terakhirku.
Kehidupanku berubah saat aku bersamamu. Takdir yang diberikan padaku, bagaikan kebahagiaan datang yang tidak akan pernah orang lain rasakan. Hari-hari yang aku jalani tak lepas darimu, kekasih hatiku yang selalu bersama menemaniku. Cintaku tidak buta karena aku dapat jelas melihat bagaimana sinar kebahagiaan yang terpancar dari orang yang kucintai. Aku hanya berharap kebahagiaan cinta ini tidak akan pernah menghilang dan pergi.
Hari-hari berjalan seperti biasa tidak ada satu pun kegiatan yang berubah. Aku dan dirinya masih tetap bersama, tapi satu hal yang berbeda dari dirinya. Semakin hari, sikap dan tingkah lakunya berubah. Kebiasaan-kebiasaannya satu demi satu menghilang, dia sering sekali lupa. Bahkan, suatu hal yang baru saja ia lakukan mudah ia lupakan begitu saja, seperti tidak pernah melakukan sebelumnya, lupa dengan apa yang harus ia lakukan, hingga keberadaan diriku pun mulai ia lupakan. Aku tahu, dia sadar betul dengan perubahannya dan kami memutuskan untuk mengetahui apa penyebab sebenarnya.
Setelah melakukan berbagai rangkaian tes pengobatan dan menunggu untuk mengetahui hasil diagnosa penyakitnya. Sungguh bukan ini yang ingin kami dengar, semua ini bukan sesuatu hal yang menenangkan saat mengetahuinya. Apakah seharusnya kami tidak perlu tahu sedikitpun?.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya
Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong, menunggunya mengucapkan sesuatu yang membuatku tenang. “Sungguh, aku baik-baik saja. Kautidak perlu mengkhawatirkanku. Percayalah, asal kauada bersamaku. Semuanya akan baik-baik saja, bukankah begitu?” lanjutnya, dengan tatapan mata yang mencoba untuk meyakinkanku.
Aku membalas tatapannya, menggenggam tangan yang sedikit dingin itu. “Berjanjilah padaku, kau akan tetap bersamaku. Agar semuanya baik-baik saja.” Ia pun tersenyum menganggukan kepala dan mempererat genggaman tanganku. Dia memaksakan seulas senyum untuk menenangkanku, linangan air mata yang ia tahan agar aku tak khawatir, tapi aku tahu semuanya yang sedang ia sembunyikan. Kesedihan yang teramat dalam yang ia coba untuk tidak membaginya pada siapa pun.
Aku dan dirinya berjalan menyusuri jalan setapak rumah sakit, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir kami. Diam, hening berkutit dengan pikiran masing masing. Dia berhenti melangkahkan kakinya, melepaskan genggaman tanganku, dan perlahan mengalihkan pandangannya menatapku sendu dengan linangan air mata yang jatuh dengan bebasnya.
“Maaf, maafkan aku. Aku sudah berbohong padamu, sekarang aku tidak baik-baik saja, aku takut,” ucapnya padaku.
Sakit, sakit hati ini rasanya melihat dia meneteskan air mata di depanku. Tak sanggup aku melihatnya. Aku hanya bisa memeluknya seerat mungkin, pelukan hangat yang memastikan bahwa aku selalu ada untuknya, walau dalam keadaan apapun. Balasan pelukan yang begitu lemas, seperti tubuh yang tak bernyawa aku rasakan. Betapa hancur hatinya mengenai vonis penyakit itu, dengan umur yang terbilang muda, ia harus mendapatkannya. Ini bukan waktu yang tepat.
“Semuanya akan baik-baik saja,” ujarku
Pernyataan dokter, pernyataan dokter itulah yang kami dengar dan membuat kami terkejut. Suatu pernyataan vonis dirinya yang tengah mengidap penyakit Alzheimer, bukan hanya ia saja yang terpukul dan sangat sedih menghadapi kenyataan itu, tapi akulah seseorang yang begitu takut, begitu takut mengetahui semua akibatnya. Ia akan kehilangan ingatannya selama ia hidup, aku sungguh takut ia melupakanku.
Seiring berjalannya waktu, hari demi hari masih aku lalui bersamanya sampai bulan berganti. Tapi, semua yang aku takutkan, semua pikiran buruk yang berkecamuk dikepalaku, semuanya menjadi kenyataan. Aku merasa jalan hidupku seperti diputar-putar, dimana saatnya aku bahagia dan dimana saatnya aku merasakan titik terendah dalam hidupku. Aku, akulah sekarang yang sudah dia tidak ingat sama sekali, sedikitpun memori tentang diriku tidak tersisa walau hanya sebatas nama.
Alzheimer, kenapa penyakit itu harus dia yang merasakannya dan kenapa aku ikut menjadi daftar sesuatu yang harus dilupakannya dan ia tidak ingat sama sekali. Waktu terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti, semuanya akan berubah begitu saja dengan cepatnya, termaksud dirimu yang sekarang dengan mudah melupakanku, tapi satu yang tidak akan pernah berubah dalam diriku. Aku tetap mencintaimu, jadi tolong ingatlah aku kembali.
Apakah kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Waktu yang begitu penuh dengan rasa canggung dan asing. Waktu yang sebentar itu dapat mengantarkan kubersama dengan dirimu membuat kenangan indah, begitu banyak kenangan yang tak bisa dilupakan diantara tawa dan air mata.
Apa kamu ingat saat kita merasakan teriknya sinar matahari dan melihat deburan ombak dengan semilir angin pantai yang menyejukkan. Samudera biru yang luas terpampang nyata di hadapan kita, berpegangan tangan serasa tidak ingin melepaskan satu sama lain, terus bertatapan akan takut kita tidak bisa berjumpa lagi, menikmati kesunyian pantai ditemani kicauan burung yang sangat merdu, bersandar menunggu cahaya matahari merah yang terbenam semakin gelap menutupi langit sehingga bintang-bintang mulai bermunculan menerangi gelapnya malam. Seolah-olah waktu telah berhenti, seperti yang selalu kita inginkan. Tapi, sayangnya waktu itu tidak bisa terulang kembali. Semua itu hanyalah tinggal kenangan dan menjadi harapanku memimpikan semuanya bisa seperti semula dan memulainya kembali dari awal.
Selamanya aku ingin bermimpi bersamamu, suasana hati yang selalu bahagia terus mengiringi waktuku bagaikan hembusan angin, mendengarkan lagu indah penyejuk hati, menghirup aroma wangi yang memenuhi tubuhmu, berjalan bersama dengan satu jalan yang kita lewati bersama. Selamanya aku ingin seperti ini, aku ingin memegang tanganmu dan berjalan di dunia denganmu bersama orang yang aku cintai. Kau, kaulah orang yang kucintai.
Senyumku tidak akan mudah menghilang begitu saja walaupun kautelah melupakanku, aku akan terus mencoba dengan sabar untuk menunggumu. Seluruh cintaku hanya untukmu karena aku tahu kekuatan cintamu melebihi siapapun, meski kaumelupakanku, tetapi aku tetap merasakan hatiku selalu dekat denganmu, hati kita tetap satu. Apapun masa depan yang menanti dirimu, aku akan tetap mempersilakanmu tetap berada dalam hatiku, tanganku akan menyambutmu dengan suka rela.
Aku tidak akan pernah berubah sedikitpun, aku tak akan menyerah dan tidak akan membuat cintamu berubah. Aku tetap mencintaimu walau seperti ini, tapi hanya satu permintaanku padamu jangan pernah kau pergi meninggalkanku. Aku akan berusaha membantumu mengingat sedikit demi sedikit kenangan kita, walaupun kau tak sanggup untuk mengingatnya..
----------
Lenyapkah cinta kita? Cinta kita sudah menghilang dari memorimu, tapi tolong jangan hapus cinta kita dalam hatimu … Cintaku, tolong datang kembali. Jangan pergi tinggalkan aku.


Aku Ingin Bersamamu Kembali


Ketika rindu ingin bertemu denganmu, sesak rasanya hati ini. Ketika pikiranku terus bergejolak memikirkanmu, perihnya mata ini hingga meneteskan butiran air mata. Ketika kata ucapan cinta tak tersampaikan, penyeselan yang timbul tak henti-henti kurasakan. Ingin sekali rasanya bertemu denganmu, walau hanya dalam mimpi yang singkat. Ingin sekali aku mengutarakan apa yang aku rasakan, tetapi waktu tidak terulang kembali. Ingin sekali aku menangis dalam pelukanmu, saat hati ini gundah. Ingin sekali aku membalas kasih sayangmu, tetapi aku tidak sempat. Kini anakmu telah tumbuh dewasa, IBU, aku ingin bersamamu kembali.
IBU. Satu kata, ketika setiap seorang anak ditanya, siapakah yang paling kau cintai di dunia ini? semuanya akan menjawab Ibuku, tanpa terkecuali. Iya benar, seorang wanita yang mengandungku, melahirkanku ke dunia ini, menjagaku, merawatku, memberiku kasih sayang yang melimpah, bahkan berkorban apapun demi seorang anak yang sangat dicintainya. Cinta pertama dan cinta sejatiku.
Seorang ibu bagai malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untukku, ibu yang selalu tersenyum ketika aku menangis, ibu yang selalu mengusap pipiku ketika berlinangan air mata, ibu yang juga terbangun dari tidurnya di kala malam kuterbangun, ibu yang terjaga tidurnya dikala merawatku saat aku jatuh sakit, dan ibu yang memanjakan diriku bagai putri raja yang mudah mendapatkan segalanya. Ia selalu ada kapanpun anaknya membutuhkannya.
Aku sangat merindukan itu semua, merindukan semua yang dilakukan ibuku. Kasih sayang, belaian lembut jemari tangan mengusap kepalaku, suara tawa ketika aku melakukan kesalahan nakal, dan dekapan hangat yang menyentuh tubuhku. Aku rindu kepada dirimu ibu, sangat merindukan dirimu. Aku yakin kau juga tahu bagaimna rasa rinduku, tapi Tuhan berkata lain, Tuhan merubah takdir kehidupanku saat itu juga. Mengambil kembali seorang yang paling berharga dalam hidupku untuk selama-lamanya dan memulai hidupku tanpa dirimu ibu.
Hanya tiga tahun, tiga tahun lamanya semenjak aku dilahirkan di dunia ini, waktu yang sangat begitu singkat aku rasakan bersama ibuku. Sungguh, saat itu aku hanya seorang anak kecil yang belum mengerti. Bagaimana rasa sakit kehilangan seseorang yang paling berharga di dunia, aku tidak tahu. Bahkan, aku binggung bagaimana harus mengekspresikan perasaanku.
Aku tidak tahu, aku sungguh tidak tahu apa yang aku lakukan saat ibuku meninggalkanku. Dimana aku? Apa yang aku lakukan? Apa yang aku pikirkan? Perasaan apa yang ada di hatiku saat itu? Aku sungguh tidak tahu. Aku hanya seorang anak kecil yang tidak mengerti tentang pahit manis kehidupan dunia. Anak kecil yang hanya berharap selalu terpenuhi dengan kasih sayang kedua orang tuanya.
Kata mereka, aku meneteskan air mata saat aku diberitahu bahwa ibuku pergi untuk selamanya, pergi dari dunia ini, meninggalkanku, dan tidak akan pernah kembali untuk bersama diriku lagi. Kata mereka, aku selalu menangis dikala merindukan ibuku.
Hanya beberapa kenangan yang aku ingat hingga saat ini, kenangan saat aku dan ibuku bersama, kenangan terakhir ia bersamaku. Bagaimana rasa bahagia ia menggenggam tangannku, mengelilingi taman bunga bersama, melindungiku dari segala macam bahaya. 
Kalau saja aku tahu itu, saat terakhir aku bisa bersamanya, mungkin aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terakhir bersamanya. Kalau saja Tuhan memberitahu kapan ibuku akan pergi, aku akan terus meminta agar nyawanya ditukar oleh nyawaku. Pasti, apapun akan aku lakukan jika aku mengetahui itu semua.
Saat dimana aku mulai mengerti, mulai bisa merasakan bagaimana arti kehilangan yang sesungguhnya. Aku pun sempat berfikir dan membuatku bertanya-tanya, kenapa Tuhan begitu teganya memisahkan aku dan dirinya? kenapa bukan aku saja yang pergi kembali kepadamu?. Tuhan sungguh tidak adil, bagaimana bisa ia melakukan semua ini terhadapku. Bahkan, Tuhan tak memberikan kesempatan pada ku untuk mengatakan Aku mencintaimu ibu.
Kenapa begitu cepat ia pergi dari sisiku? kenapa harus ibuku? kenapa tak terpikirkan kala aku kecil, untuk mengatakan aku mencintaimu ibu. Dikala sedih dan rasa kesepianku, aku sangat marah pada Tuhan. Bila bukan dia, siapa lagi Tuhan yang dapat mengerti diriku?. Hanya ibuku. Hanya sosok seorang ibu yang akan sangat mengerti apa yang dirasakan anaknya, walaupun itu tersimpan jauh di dalam hati. Semua rasa kesepian yang membuat diriku tak mengerti tentang rasa ini yang terus muncul. Membuat aku marah dan kecewa terhadap diriku sendiri. Betapa bodohnya aku kala itu hingga memiliki pikiran buruk seperti itu terhadap Tuhan.
Aku hanya bisa mencoba mengingat dan merasakan kembali semua kenangan terindah dalam hidupku bersama ibu. Mencoba mengenang kembali semua itu, semakin menambah rasa kehilangan itu kembali dan tidak pergi.
Bisakah aku bersamanya kembali? Pertanyaan itu yang sering aku lontarkan, entah pada siapa aku bertanya karena hanya diriku yang tahu, tapi apalah daya engkau telah pergi ibu, meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Semakin bertambahnya usia, semakin aku dewasa, aku tahu apa rencana Tuhan sesungguhnya, tidak mungkin ia memisahkan aku dengan ibuku tanpa sebab akibat. Semua memang sudah jalannya, semua sudah takdir kehidupanku yang tidak dapat aku mencegah dan merubahnya.
Hanya perasaan dalam hati yang terus memikirkan kenangan-kenangan indah bersamanya, kenangan yang tidak akan pernah terulangi lagi. Semuanya hanya tinggal kenangan yang akan selalu aku ingat dan aku simpan di dalam lubuk hatiku paling terdalam.
Hanya potret dirimu yang tersisa, yang bisa aku pandangi kalaku merindukanmu, kalaku ingin menangis, kalaku ingin mengadukan keluh kesah hidup ini. Saat ini, kuteruskan hidupku tanpa dirimu ibu.
IBU, aku ingin sekali merasakan bagaimana engkau mengajariku cara membaca dan menulis, mengantarku pergi ke sekolah dan menungguku saat aku pulang sekolah.
IBU, aku ingin sekali engkau melihat perkembanganku di sekolah, memarahiku dan menasehatiku saat aku melakukan kesalahan.
IBU, aku ingin sekali melihatmu mengajariku bagaimana caranya mengaji dan mengerjakan salat.
IBU, aku ingin sekali salat berjamaah dengan lengkap bersamamu dan juga ayah.
IBU, aku ingin sekali menanyakan bagaimana kabar mu.
IBU, aku ingin sekali kau menemaniku saat sepi dan kegundahan hatiku muncul.
IBU, aku ingin sekali mendengarmu mengucapkan selamat ulang tahun padaku, begitupun aku sebaliknya, ingin sekali memberikan kebahagiaan saat engkau bertambah usia.
IBU, aku ingin sekali mengabadikan setiap peristiwaku bersama dengan dirimu, membingkai setiap potret dirimu bersamaku.
IBU, aku ingin sekali engkau melihat pertumbuhanku hingga aku dewasa, aku ingin sekali engkau disisiku saat aku menikah nanti.
Bahkan, aku ingin sekali engkau bisa merasakan menimang anakku, yaitu cucumu.
Banyak sekali keinginan yang aku harapkan, keinginan yang sudah jelas jawabannya tidak akan terwujud sama sekali. Bahkan saat peristirahatan terakhirmu pun aku begitu terlalu kecil untuk mengantarmu hingga kesana. Aku tidak tahu, apakah jika kau masih hidup di dunia dan tahu bagaimana tingkah laku anakmu ini. Apakah ada perasaan menyesal memiliki anak sepertiku, sungguh aku sangat takut.
Jika boleh aku terus berandai-andai dan berharap tentang dirimu ibu, aku akan berucap. Andaikan aku bisa tetap bersamamu ibu, di manapun tempat kau berada saat ini. Mungkin hati ini akan sangat lebih bahagia, mungkin mata ini tidak meneteskan air mata, mungkin telinga ini akan terus mendengar suara lembutmu, mungkin jiwa dan raga ini akan ikhlas meninggalkan segalanya, aku dapat mengabaikan semua mimpi-mimpi dan ambisiku di dunia ini, apa yang telah kudapat di dunia ini. Asalkan bisa bersama denganmu, asalkan ada dirimu yang tetap disisiku, asalkan aku bisa melihatmu tetap berada di dunia ini. Aku rela meninggalkan semuanya demi rasa cinta yang ada untuk dirimu.
Ibu, ibu, dan ibu. Seperti ucapan pepatah “Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah” bahkan akupun tidak sempat membalas apa yang telah dilakukan ibuku sepanjang hidupnya saat bersamaku. Tak mampu aku membalas setiap pengorbanannya, bahkan sama sekali tak bisa aku membalas walau, sedikitpun tetesan keringat ibuku.
Tak pernah lupa aku menyebutkan namamu disetiap sujudku karena saat ini hanya kumpulan doa disetiap sujud dan salatku, yang dapat aku panjatkan hanya untuk ibuku tercinta.  Aku curahkan semua isi hatiku yang aku adukan pada Tuhan, bagaimana rasa hati ini yang sangat merindukanmu. Aku berharap di tempat peristirahatanmu yang terakhirmu ibu, bisa mengantarkan dirimu disisi Tuhan.
Kau tahu ibu, saat aku merindukanmu hanya mendengarkan alunan lagu tentang ibu saja aku bisa meneteskan air mata. Aku mencoba menutup rasa rinduku padamu, aku takut akan perasaan yang menginginkanmu tetap di sisiku kembali lagi, tetapi aku mencoba untuk tidak melihat kembali ke belakang.
Aku tak tahu, esok aku akan seperti apa? Aku memang sudah megikhlaskanmu untuk pergi dariku, tapi aku takut engkau kecewa terhadap apa yang aku lakukan di dunia ini. Bahkan aku takut jika aku telah tiada nanti, engkau tidak akan mau melihatku sebagai anakmu karena malu dengan perbuatanku semasa hidupku.
Ibu, engkaulah bidadari surgaku yang aku dapatkan, walau aku hanya merasakannya dengan waktu yang singkat. Aku bersyukur mendapatkanmu, kau bagaikan hadiah terindah yang diberikan Tuhan untukku. Terima kasih Tuhan dan tolong maafkanlah hambamu ini karena telah berburuk sangka terhadapmu.

Waktu memang tidak akan bisa terulang kembali, tapi bersediakah engkau menunggu anakmu ini, ibu. Aku akan bersamamu kembali ibu. Maafkan aku ibu, maafkan anakmu ini, maafkan aku yang tidak bisa sedikitpun membalas jeripayahmu. Terima kasih telah melahirkanku di dunia ini, bisa membuatku merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia. Seribu kata maaf dan terima kasih pun tidak cukup aku lontarkan, tapi sungguh maafkan aku dan terima kasih banyak ibuku. Aku ingin bersamamu kembali, aku hanya mencintai dirimu. Sekarang aku mengerti siapa yang disebut dengan cinta sejati. Jawabannya adalah IBU, itulah cinta sejatiku, kaulah cinta sejatiku ibu, cinta dunia dan akhiratku.

Keterbatasan Tak Menjadi Penghalang

CILACAP – Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, kecuali penciptanya. Walaupun, kesempurnaan tidak ada dalam diri manusia, tapi usaha dan kerja keras tetap menjadi tumpuhan untuk melanjutkan kehidupan. Adipala, salah satu desa di Cilacap, Jawa Tengah. Desa yang terbilang sudah cukup maju dan tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi, memiliki sosok seorang ibu yang tegar dan kuat menjalani kehidupan.

Diah Eka Noventi (32) atau yang lebih dikenal dengan sapaan akrabnya Venti. anak pertama dari dua bersaudara ini, betapa malang nasibnya saat ia mengalami kecelakaan saat usia yang masih di bawah lima tahun. Kecelakaan kecil yang tidak diinginkan terjadi padanya. Kecelakaan itu membekaskan luka hingga saat ini, mungkin seumur hidupnya. Kecelakaan kecil yang tidak disengaja membuat hidupnya berubah, ketika saudaranya tak sengaja menjatuhkan sebuah galah yang menimpa kepalanya. Saraf kepala Venti, saat itu juga bermasalah. Berbagai pengobatan apapun, dimanapun, semuanya sudah dicoba oleh kedua orang tuanya, apapun mereka lakukan untuk menyembuhkan buah hati pertama mereka. Semua sudah dilakukan, tapi apa daya takdir berkata lain. Penyakit itu dideritanya hingga saat ini. Kejang-kejang sering sekali ia rasakan, akibat rasa letih atau pikiran yang sedang berkecamuk dikepalanya, kejang-kejang yang ia alami membuat fisiknya semakin lemah, deretan gigi yang sebelumnya berjejer dengan rapih dan kokoh, untuk menahan rasa sakit itu, satu persatu meninggalkan tempatnya. Dengan umur yang masih terbilang muda, tapi beberapa giginya sudah tidak ada. Maka dari itu semua keluarga berusaha untuk melindunginya, berusaha membuat suasana hatinya selalu gembira, jarang sekali ibunya mengizinkan Venti untuk berpergian jauh karena takut penyakitnya akan kambuh. Padahal dalam lubuk hati terdalamnya ia sangat ingin keluar dari rumah seperti yang lainnya, tapi apa boleh buat kondisi fisik yang membuatnya mengurungkan niat tersebut. Seringkali ia pergi keluar rumah tanpa memberitahu kedua orang tuanya, tetapi sesuatu pasti terjadi ia akan terjatuh akibat rasa pusing yang parah dan kejang-kejang, bahkan sampai ia mengeluarkan air kencing, banyak sekali orang-orang yang melihatnya. Rasa malu mungkin sudah hilang dari dirinya karena sering mengalami seperti itu. 

Venti tetap menjalani kehidupannya seperti wanita yang lainnya tidak ada rasa putus asa dalam dirinya. Setelah menikah Venti dikaruniai seorang anak laki-laki, seorang anak yang ia lahirkan secara normal. Betapa hebatnya ia dengan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, ia masih bisa berusaha untuk melahirkan secara normal. Padahal sekarang ini wanita yang melahirkan dengan mudahnya menggunkan cara operasi atau biasa disebut sesar. Melahirkan secara normal juga menjadi kebanggan tersendiri untuknya sebagai seorang ibu.

Anak semata wayang yang ia asuh dengan bantuan ibu tercinta ia lakukan. Keberadaan suami bak hanya sebagai status karena itu ia memutuskan untuk berpisah dengan suaminya dan mencoba menghidupkan anaknya seorang diri. Alif, anak laki-laki yang mengerti kesehatan ibunya kurang baik, lebih memilih menghabiskan waktu bersama neneknya, agar ibunya tidak letih untuk mengurus dirinya karena ia tidak mau melihat ibunya merasakan sakit.

Agar tidak mejadi beban terus menerus orang tuanya Venti mengisi waktu luangnya setiap hari dengan bekerja. Ia membantu tetangga untuk mejereng lanting. Setiap 1000 lanting atau satu gulungan Venti diberikan 500 perak, dari pagi hingga sore ia menjereng lanting, ia mengumpulkan uang hasil kerjanya hingga satu bulan. Saat satu bulan habis, ia baru mengambil uangnya, penghasilan dari menjereng lanting yang kurang lebih Rp500.000. Agar hasil kerjanya membuahkan hasil, sebagian uangnya ia belikan emas dan sebagiannya ia tabung. Selain menjereng lanting, ia mencoba menjual es batu, satu es batu ia hargai Rp1000, penjualan es batu bisa menambah penghasilannya tiap hari.

Saat waktunya Lebaran tiba, semua keluarga akan berkumpul. Itulah saat-saat bahagia yang ia rasakan, bertemu dengan keluarga besar membuat rasa kesepiannya sedikit terobati. Aku dan saudara-saudaraku akan membantunya memisahkan satu persatu lanting-lanting dari gulungannya, menjejerkan lingkaran lanting itu dengan rapih agar bisa terjemur dengan rata. Betapa bahagianya ia, ketika semua bersimpati untuk membantu dirinya. Pekerjaanya akan lebih cepat selesai dan ia bisa menjereng lanting lebih banyak dari hari biasanya. Tidak setiap hari melakukan kegiatan inipun aku merasa bosan, walaupun dengan bantuan saudara lainnya tapi, Venti saudaraku bersabar demi tetap menghasilkan nafkah untuk anaknya dan tidak mau dianggap orang lain sebagai wanita yang lemah. Baginya keterbatasan fisik yang ia miliki bukan menjadi sebuah penghalang untuk menjalani hidupnya. Hidup akan mudah jika percaya dengan takdir.

Aku Tidak Tahu



Aku Tidak Tahu

Seperti apa dirimu? aku tidak tahu
Seindah apa dirimu? aku tidak tahu
Suaramu...
Tatapanmu...
Parasmu...
Bahkan wujud dirimu aku tidak tahu
Dekat atau jauh aku tidak tahu
Di mana kau berada aku tidak tahu
Saling mengenal atau tidak aku tidak tahu
Kapan kita dipertemukan aku pun tidak tahu
Pertanyaan terbesarku adalah siapa dirimu?
Sungguh aku tidak tahu

Mungkin sekarang, aku tidak tahu semuanya
Tapi, aku yakin saat waktunya tiba nanti
Aku akan mengetahui semunya tentangmu

.Restu Setio





Tidak Berbeda


Tidak Berbeda

Ayah, kau juga segalanya seperti ibu
Tidak ada rasa cinta yang aku bedakan sedikitpun
Walaupun kata cinta tak pernah terucap olehku

Kau memberikan sebuah harapan padaku
Harapan itu adalah sebuah cinta
Kau juga memberikan sebuah kebahagiaan
Kebahagiaan itu adalah senyuman
Tanpa kata kau terus melindungiku dari belakang

Tidak berbeda
Kau pun segalanya, sama berartinya untukku
Cintamu...
Hatimu...
Pengorbananmu...

Tidak berbeda

.Restu Setio




Kacamata Membuat Penderita Silinder Ketergantungan

Mata adalah organ penglihatan manusia yang sangat penting dalam kehidupan, dengan mata dunia ini lebih indah karena dengan melihat sekitar manusia bisa melakukan apapun dan dapat melihat keindahan dunia.

Tidak salah jika mata menjadi organ yang penting dan sangat rentan bagi manusia. Kebanyakan saat ini penyakit mata rabun bukan hanya dirasakan oleh orang-orang dewasa atau yang sudah lanjut usia, melainkan anak-anak ataupun kalangan remaja. Dapat dibilang penyakit ini sudah menjalar pada generasi mereka. Misalnya, seperti penyakit mata silinder.
Mata silinder memiliki istilah medis astigmatism. Istilah tersebut mengacu pada kondisi mata yang mengalami penglihatan kabur dan berbayang karena bentuk kornea atau lensa mata tidak cembung sempurna. Tanda dan gejala paling umum yang dirasakan penderita mata silinder adalah penglihatan kabur atau berbayang. Penderita menjadi sering memicingkan mata ketika melihat jauh maupun dekat. Selain itu, penderita biasanya mengeluh kesulitan membaca tulisan yang kecil. Sakit kepala, mata tegang, dan lelah setelah membaca atau memakai komputer adalah beberapa keluhan yang mungkin muncul jika kondisi ini tidak diobati. Pada gangguan mata silinder yang ringan, gangguan penglihatan mungkin tidak terjadi secara signifikan. (www.alodokter.com) Sayangnya, jika mata silinder diderita oleh anak-anak atau remaja, kemungkinan besar mereka tidak akan menyadarinya. Hal ini mungkin terjadi karena pengetahuan anak-anak mengenai suatu benda belum sempurna.
Akibat, tidak sadarnya menderita silinder biasanya mereka tetap melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan kondisi mata menjadi semakin buruk. Seperti halnya keseringan bermain games dengan waktu yang cukup lama, membaca dalam kondisi lampu tidak menyala, menonton acara televisi dengan posisi tidur, dan masih banyak lagi yang membuat mata bekerja menjadi semakin keras dan membuat mata lelah. Kebiasaan-kebiasaan ini tentunya dilakukan oleh anak-anak.  
ketika seseorang penderita silinder sebelumnya tidak memakai kacamata mereka tidak menjadi ketergantungan agar selalu memakai kacamata, tetapi setelah mengetahui bahwa ia menderita silinder pada matanya dan sudah dipastikan ia harus memakai kacamata dalam kegiatan sehari-harinya. Kacamata ini sudah tidak dapat dilepas lagi atau menjadi sangat ketergantungan dalam penggunaannya.
Kacamata membuat penderita silinder menjadi ketergantungan

Ketika melihat sesuatu penderita silinder yang sudah terbiasa mengenakan kacamata akan sangat terbantu dengan kacamata tersebut untuk melihat sesuatu yang jauh dan kecil, tetapi saat kacamata tidak dikenakan penglihatan mata penderita silinder akan sangat rabun, semuanya berbayang, dan tidak terlihat dengan jelas. Ketergantungan memakai kacamata ini pasti dirasakan oleh penderita mata silinder.
Kacamata bagaikan hidup kedua bagi penderita mata silinder yang memang dianjurkan untuk mengenakan kacamata. Jika tidak dikenakan silinder akan naik dan semakin besar dari sebelumnya dan juga kaca lensa akan semakin tebal. Ketergantungan pada kacamata ini yang membuat penderita silinder tidak dapat melepaskan kacamatanya. Lensa untuk mata silinder pun berbeda dengan mata minus. Lensa silinder didesain secara khusus karena gabungan antara minus dan silinder.
Selain menggunakan kacamata penderita silinder juga dapat memperbaiki penglihatan yang terganggu dengan cara menggunakan kontak lensa, tetapi dalam penggunaan kontak lensa harus ada konsultasi terlebih dahulu dengan dokter mata karena sudah banyak sekali kontak lensa yang berbahaya dan dijual dengan harga murah. Penggunaan antara kacamata dan kontak lensa tergantung pada selera penderita silinder. Operasai lasik dan lasek, ini salah satu cara operasi mata untuk penderita silinder, tetapi tetap saja harus ada konsultasi lebih lanjut pada dokter mata yang ahli untuk menentukan prosedur mana yang tepat untuk mata.





SAHABAT

SAHABAT Dulu kita seperti menara Jauh, tak rasakan apa-apa Sekarang kita seperti udara Dekat, tak ada keterbatasan Pertem...